Building Automation System Hemat Energi Hingga 15 Persen

Big Banner

Majalah Properti Indonesia edisi Mei 2017 di rubrik Teknologi menurunkan tulisan tentang efisiensi penggunaan energy melalui Building Automation System. Disebutkan meningkatnya permintaan bangunan dan pusat industri tersebut juga membuat kebutuhan pasokan listrik bertambah.

Pemakaian listrik di sektor bangunan semakin besar atau sekitar 40% setiap tahunnya. Di Jakarta untuk menyiasati konsumsi pemakaian listrik, pemerintah daerah telah mengeluarkan kebijakan konsep green building atau smart building yang tercantum dalam Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 38 Tahun 2012, tentang bangunan gedung hijau.

Peraturan yang diterbitkan tahun 2012 ini bertujuan untuk mewujudkan penyelenggaraan bangunan gedung yang memperhatikan aspek penghe matan dan efesiensi sumber daya. Salah satu cara sederhana untuk mengaplikasikan konsep smart building ini adalah dengan menerapkan sebuah sistem yang dapat memonitor pemakaian listrik suatu gedung, yakni Building Automation System (BAS) atau Building Management System (BSM).

BAS merupakan pemrograman, komputerisasi, intelligent network dari perangkat elektronik yang dapat memonitor serta mengontrol sistem mekanis dan penerangan suatu gedung.

“Di dalam suatu gedung, terutama high rise building, dua hal yang membuat konsumsi listrik paling banyak adalah chiller (motor pendingin ruangan) dan lighting. Hampir 60% konsumsi listrik berasal dari dua elektronik tersebut,” ujar Edward P. Nainggolan, Country Manager and FS ASEAN Promoter, PT Siemens Indonesia, awal Februari lalu.

PT Siemens Indonesia termasuk salah satu produsen BAS di Indonesia. Perangkat yang dihasilkan Siemens dirancang untuk dapat memonitor, mengontrol serta mengendalikan peralatan-peralatan elektronik dalam gedung, seperti pendingin udara, Air Handling Unit (AHU), lampu, dan lainnya.

Kinerja Building Automation System Edward menuturkan, kinerja dari sistem BAS Siemens adalah dengan memasangkan perangkat pada peralatan yang ingin dikontrol. Dengan begitu building owner dapat memonitor pemakaian listrik dalam jangka waktu tertentu. Tidak hanya itu, building owner juga dapat mengendalikan waktu on dan off peralatan yang telah dipasangkan BAS tersebut.

“Misalnya, owner gedung ingin mengontrol pemakaian AC di dalam ruangannya kapan pun ia mau,” jelas Edward. Selain itu, sistem BAS ini juga dapat di – pasang untuk mengendalikan listrik hanya di area tertentu. Misalnya jika tenant ingin lembur, maka penerangan dan listrik dapat dikendalikan untuk menyala hanya pada lantai tertentu yang akan digunakan saja. Tidak hanya itu, sistem yang dikembangkan Siemens ini juga dapat memasang motion sensor di ruangan untuk mengenda li kan perangkat pen cahayaan.

“Jadi, ketika meeting sudah selesai dan semua orang keluar dari ruangan rapat, maka dengan otomatis lampunya mati sendiri,” jelas Edward. Dengan kata lain, BAS dapat me la kukan sejumlah efesiensi dan penghematan sebesar 12 hingga 15 persen. Sebagai contoh, proyek Conrad Building di Bali memiliki tagihan listrik sebesar Rp970 juta setiap bulannya. Namun, setelah memasang sistem BAS ini, Conrad mampu menghemat sekitar 12 % – 15% atau mampu turun sekitar Rp824 juta per bulan.

Edward menjelaskan, meskipun cost di awal pemasangan sistem ini terbilang cukup mahal, namun dalam lima sampai enam tahun ke depan, building owner akan balik modal. Beberapa gedung yang telah mengaplikasikan perangkat sistem BAS Siemens antara lain, Conrad Building, Pertamina Gambir, Pasifi c Place, The Ritz Calton dan beberapa gedung lainnya. MPI YAS. (Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui: https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia lebih praktis dan lebih ekonomis).

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me