Jakarta Hadapi Masalah Air Bersih dan Sanitasi

Big Banner

Jakarta – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta hingga saat ini masih menghadapi persoalan air dan sanitasi. Sebagai Ibu Kota negara, 40 persen populasi penduduk DKI tidak memiliki akses air bersih dan 80 persen air terkontaminasi karena pembuangan tinja yang langsung ke selokan.

Guna membantu memperbaiki kondisi sanitasi di DKI, proyek Bersih (Bersama Perbaiki Sanitasi dan Higiene Kota) dilakukan sejak Oktober 2016 hingga Juli 2017 di Kelurahan Duri Utara, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat sebagai percontohan.

Proyek tersebut digagas oleh Plan International Indonesia yang telah berhasil melakukan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan dukungan dari pemeritah Australia dan Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan dukungan dari pemerintah Belanda. STBM sendiri dimulai tahun 2008 lalu oleh pemerintah pusat melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 852 Tahun 2008.

Kelurahan Duri Utara ini dipilih karena rata-rata penduduk di sana sudah melakukan Buang Air Besar (BAB) di jamban tertutup, tetapi sebagian besar pembuangannya dialirkan langsung ke saluran got dan bukan diolah secara aman di tangki septik.

Lurah Duri Utara, Denny A Putra, mengatakan, wilayahnya hanya seluas 40 hektare (ha) dengan penduduk sekitar 24.104 jiwa dari 8 RW. Ia mengatakan, warga di Duri Utara banyak yang tinggal lebih dari satu Kepala Keluarga (KK) dalam satu rumah. Contohnya, di RW 002, di dalam rumah bisa sampai 5 KK. Hal tersebut karena wilayah Duri Utara merupakan wilayah yang padat.

“Kami menata sanitasi ini dengan didampingi oleh konsorsium dari Plan Indonesia,” kata Denny saat mendampingi Deputi Gubernur Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup, Oswar Muazin Mungkasa, di Kelurahan Duri Utara, Kecamatan Tambora, Jakarta Utara, Jumat (26/5).

Ia mengatakan, di Kelurahan Duri Utara pihaknya mencoba 4 teknologi tangki septik, yakni Tripikon-S, Pinastik, Silinder, dan IPAL untuk STBM ini. Seluruh RW 002 di Duri Utara yang mengikuti program ini ada sebanyak 364 jiwa.

“Di sini juga warga yang terkena diare banyak,” katanya.

Deputi Gubernur Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Oswar Muazin Mungkasa, mengatakan, di Jakarta terdapat 800.000 orang yang masih melakukan BAB sembarangan. Selain itu, kata Oscar, 100.000 diantaranya melakukan BAB langsung ke kali atau saluran.

“Tapi yang banyak itu punya toilet tapi buangnya langsung ke saluran. Kesalahannya karena banyak pendatang. Rata-rata pendatang itu tidak peduli sehingga menurut saya tanggung jawab di sini ada di pemilik rumah,” katanya.

Oscar mengatakan, pihaknya mengapresiasi adanya sistem sanitasi yang membantu masyarakat ini sebagai salah satu solusi.

Perwakilan Plant Indonesia, Silviana Devina mengatakan, pihaknya memilih kawasan Duri Utara karena perilaku higienis masyarakat Duri Utara sangat memprihatinkan.

“Dari hasil rapid assessment Plan tahu 2016, hanya 10 persen dari total populasi yang melakukan cuci tangan pakai sabun setelah BAB,” kata Silviana.

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me