Properti Milik Pengembang Swasta Tak Diatur, Rawan Spekulasi!

Big Banner

sas.setup({ domain: ‘http://adnetwork.adasiaholdings.com’, async: true, renderMode: 0});

sas.call(“std”, { siteId: 134986, // pageId: 749845, // Page : ID_Okezone/okezone_outstream formatId: 44269, // Format : Video-Read 1×1 target: ” // Targeting });

<a href=”http://adnetwork.adasiaholdings.com/ac?jump=1&nwid=2060&siteid=134986&pgname=okezone_outstream&fmtid=44269&visit=m&tmstp=[timestamp]&out=nonrich” target=”_blank”> <img src=”http://adnetwork.adasiaholdings.com/ac?out=nonrich&nwid=2060&siteid=134986&pgname=okezone_outstream&fmtid=44269&visit=m&tmstp=[timestamp]” border=”0″ alt=”” /></a>

JAKARTA – Kenaikan pada harga rumah dianggap mulai tak wajar. Adanya spekulasi harga yang diberikan oleh developer dianggap menjadi penyebab kenaikan yang tak wajar.

Pengamat Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, hal itu terjadi karena di Indonesia belum memiliki pengawas untuk industri properti. Selama ini pengawasan yang dilakukan pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) hanya sebatas mengawasi dan mengatur khusus rumah bersubsidi sehingga untuk yang swasta sangat rawan untuk menjadi objek spekulasi.

“Karena Kemen PUPR hanya mengatur rumah subsidi, sementara properti swasta belum ada yang mengatur. Akhirnya jadi objek spekulasi,” ujarnya saat dihubungi Okezone belum lama ini.

Guna menghindari adanya spekulasi khususnya di perumahan swasta, Bhima meminta kepada pemerintah agar segera melakukan pajak tanah yang menganggur. Selain itu penerbitan bank tanah juga harus dilakukan dengan segera.

“Pertama pajak tanah menganggur atau unitilized land tax harus segera dilakukan tapi dengan mekanisme yang jelas. Lalu pemerintah juga harus mempercepat penerbitan bank tanah,” jelasnya.

property.okezone.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me