Outlook Bisnis Properti Smester II/’17, Sub Sektor Perkantoran

Big Banner

Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi Juli 2017 menurunkan ulasan tentang outlook bisnis properti pada semester II 2017. Di sub sektor perkantoran misalnya disebutkan berdasarkan survei yang dilakukan Savills sampai akhir tahun 2016, tingkat hunian perkantoran baik di daerah segitiga emas (CBD) maupun di luar CBD terus menurun.

Saat ini, tingkat hunian perkantoran di kawasan CBD berada di kisaran 84%, sementara di luar CBD mencapai sekitar 77%. Kedepan, diharapkan inovasi dan konsep baru dari pengembang dalam proyek – proyek propertinya yang dipaket melalui harga yang sesuai akan semakin bertambah banyak sehingga aktivitas pasar pun akan semakin meningkat.

Ditambahkan Jeffrey Hong, managing analis pasar properti Savills, akibat dari perlambatan ekonomi dan melemahnya ekspansi bisnis, permintaan akan produk properti khususnya dari sektor korporasi juga menurun di Jakarta.

Hal tersebut sangat berpengaruh kepada kinerja sektor perkantoran. Akan tetapi, dalam kondisi pasar yang kurang menguntungkan ini pun masih terbuka peluang dan kesempatan untuk pengembang dan investor untuk mengembangkan bisnisnya. “Yang diperlukan adalah kejelian melihat peluang dari kondisi yang tengah berkembang di masyarakat, yang berpotensi untuk menjadi tren di masa depan,” katanya.

Pengembang juga diharapkan mampu menyentuh pasar melalui inovasi dan konsep yang belum pernah ada sebelumnya. Menurut Jeffrey, sejumlah produk dan konsep properti dari negara lain mungkin bisa diterapkan dan dijual kepada konsumen di Jakarta. Akan tetapi, produk tersebut harus menarik dan sesuai dengan kebutuhan investor lokal dan yang tak kalah penting adalah harganya kompetitif terhadap produk-produk yang ada. Hal tersebut menjadi penting karena saat ini kinerja sejumlah sektor properti di Jakarta, cukup memprihatinkan sehingga dirasakan perlu adanya inovasi baru di pasar.

Hal yang sama dikatakan Tommy. Menurutnya, pasar perkantoran di kota besar seperti Jakarta masih tertekan. Penyebabnya yakni pasokan yang terus bertambah, sementara permintaan berkurang. Adanya perlambatan ekonomi pun mengakibatkan perusahaan beralih kantor dari premium area ke perkantoran yang lebih terjangkau.

“Meskipun demikian pertumbuhan ekonomi bukan menjadi faktor utama pendukung offi ce market. Meskipun ekonomi Indonesia tumbuh baik pada tahun 1998, permintaan negatif sehingga okupansi hanya 77%. Kalau untuk tahun ini perkantoran masih berat,” kata Tommy.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui: https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia lebih praktis dan lebih ekonomis).

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me