Saat Kontraktor Asing Ramai-Ramai Masuk Indonesia (1)

Big Banner

Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi Juli 2017 khususnya di rubrik monitor menurunkan liputan tentang Kontraktor asing yang ramai-ramai menyerbu Indonesia. Di sebutkan bahwa perusahaan kontraktor asal China menjadikan Indonesia sebagai pasar utama di Asia Tenggara.Lingkup bisnisnya mulai dari layanan kontraktor rekayasa konstruksi, pembangunan gedung, survei dan desain, perencanaan serta konsultasi.

Perusahaan asal China semakin banyak yang menggarap pasar Indonesia. Tidak terkecuali perusahaan kontraktor proyek properti. Jika melihat banyaknya proyek properti yang dikembangkan, walaupun bisnis properti sedang lesu, tentu Indonesia merupakan pasar yang menggiurkan. Tak heran jika perusahaan kontraktor asal China kini terlihat agresif menggarap pasar properti di Indonesia.

Beberapa pengembang telah menggandeng perusahaan kontraktor asal China untuk mengerjakan konstruksi proyek properti yang dikembangkannya. Antara lain Pollux Properties yang me lakukan kerjasama bisnis dengan Qinjian International. Kedua belah pihak berencana membangun sejumlah proyek properti senilai US$ 500 miliar atau setara Rp6,6 triliun di beberapa lokasi.

Direktur Keuangan dan Accounting Pollux Properties, Lie Iwan Aliwayana mengungkapkan, kerja sama dengan Qinjiang International akan diimplementasikan dalam beberapa proyek-proyek properti dalam jangka 5 tahun ke depan.

“Jangkanya 5 tahun. Nilai US$ 500 juta itu kerja sama kedua belah pihak untuk keseluruhan rencana beberapa proyek properti yang akan kita bangun dalam 5 tahun mendatang,” jelas Lie.

Dia menjelaskan, saat ini baru proyek superblok di Cikarang yang baru diker jasamakan oleh kedua perusahaan. Proyek senilai Rp2 triliun tersebut meliputi 4 tower apartemen, mall, dan hotel. “Untuk proyek di Cikarang sendiri Qinjiang International bertindak sebagai main contractor dengan nilai kontrak Rp400 miliar,” kata Lie.

Lie mengungkapkan, dirinya belum memiliki detail porsi nilai patungan US$ 500 miliar masing-masing pihak tersebut, mengingat proyek-proyek yang akan digarap masih dalam tahap pembicaraan.

“Proyek-proyek lain ada di Batam, Lombok, dan Semarang. Nanti baru bicara detail, apakah Qinjiang sebagai main contractor, atau sebagai investor, atau keduanya,” ujar Lie.

Sementara PT Indoserena Dwimakmur menggandeng China Triumph International Engineering Co, Ltd (CTIEC) untuk ikut menanamkan investasi pada pengembangan proyek superblok Lumina City senilai Rp2 triliun di Tangerang, Banten. CTIEC adalah BUMN China yang bergerak di bidang engineering, desain dan kontraktor, konsultasi teknik, dan jasa pengawasan engineering untuk bahan bangunan dan proyek teknik sipil. CTIEC telah mengerjakan 863 proyek di belasan negara. Perusahaan ini menjadi Top 20 Perusahaan Nasional China dari Survei Proyek Kontraktor serta masuk dalam daftar Fortune 500.

Direktur Lumina City, Puji Ko mengungkapkan CTIEC nantinya akan menjadi project partners untuk pembangunan kons truksi proyek tersebut. Selain memiliki pengalaman panjang dan reputasi sebagai kontraktor terkemuka di China, CTIEC juga ikut mendanai pengerjaan konstruksi proyek properti terpadu tersebut. “Jadi ini investasi bersama, mereka yang biayai pembangunan Lumina City. Share-nya berimbang masing-masing 50 persen,” ujar Puji Ko.

Gunakan pekerja lokal

Presiden Direktur China Triumph International Engineering Indonesia Wang Linguo menuturkan, Indonesia memiliki potensi yang besar, karena populasi tinggi sekitar 250 juta jiwa dan ekonomi yang berkembang pesat. Wang mengatakan, proyek Lumina City merupakan proyek properti perdana yang digarap CTIEC. Namun CTIEC telah berpengalaman mengembangkan proyek real estat di negara asalnya. “Di Lumina City, kami akan membangun empat tower apartemen, shopping mall, dan hotel. Ini memerlukan waktu sekitar lima tahun,” jelas Wang.

Dia mengatakan, CTIEC sebelumnya sudah memiliki banyak proyek di indonesia. “Sejak 1993, kami sudah masuk Indonesia untuk membangun pabrik kaca, semen, nikel, dan solar power plant,” katanya. Wang mengungkapkan, pihaknya akan membangun proyek properti lain di Indonesia, namun setelah Lumina City tuntas dikerjakan. Salah satu yang menjadi wacana adalah pengembangan fast building house yang dibangun dengan teknologi terbaru CTIEC.

“Rumah seperti ini akan lebih murah dibanding rumah biasa, karena menggunakan material khusus. Namun untuk membuatnya di Indonesia, kami harus membuat pabrik di Indonesia, karena bila mengimpor material dari China, biayanya akan sangat mahal,” jelas Wang. Membuat pabrik, ujarnya, akan membutuhkan waktu yang panjang dan investasi yang besar.

Maka, CTIEC akan melakukannya jika sudah ada banyak permintaan. Disinggung terkait pekerja asal China yang kian banyak masuk ke Indonesia, Wang menegaskan pihaknya akan memakai tenaga kerja Indonesia, kecuali untuk level manajemen dan pekerja di bagian teknik.“Untuk tenaga kerja, umumnya kami akan gunakan pekerja lokal, karena upah pekerja asal China terlalu mahal, bisa mencapai tiga kali lipat dari pekerja lokal,” katanya.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui: https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia lebih praktis dan lebih ekonomis).

mpi-update.com