Kisah-kisah Lucu Warga Perumahan Menengah Atas

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Banyak kisah lucu dalam pengelolaan lingkungan perumahan atau estate management. Estate management biasanya dimanfaatkan di perumahan menengah atas agar keamanan, kebersihan, dan kenyamanan penghuni terjamin. Sebaliknya penghuni punya tanggung jawab membayar iuran pengelolaan lingkungan (IPL) sebagai biaya. Penghuni juga perlu menjaga ketertiban dan hubungan harmonis dengan sesama warga. Tapi respon pemilik rumah bisa bermacam-macam dari hal-hal yang agak serius hingga remeh.

Serenia Hills salah satu perumahan menengah atas di Jakarta Selatan

Serenia Hills salah satu perumahan menengah atas di Jakarta Selatan

“Ada konsumen yang tidak mau rumahnya segera diserahterimakan kendati pembayarannya sudah lunas. Mereka umumnya investor atau enduser yang belum mau menghuni rumahnya agar tidak dikenakan kewajiban membayar IPL,” ujar Permadi Indra Yoga, Pimpinan Proyek Serenia Hills, hunian menengah atas di Karang Tengah, Jakarta Selatan, kepada housing-estate.com di Jakarta belum lama ini.

Ia menyebutkan, yang paling ribet menghadapi pemilik rumah yang akan melakukan renovasi. Mereka merasa bebas melakukan apa saja termasuk mengubah fasad (tampilan luar) rumah miliknya. Di lain pihak pengembang berpijak pada konsep pengembangan secara utuh termasuk tampilan rumahnya sehingga dilarang mengubah bentuk fasad semaunya sendiri. Bila ingin melakukan renovasi pada bagian fasad haru menggunakan desain yang disediakan developer.

“Biasanya yang seperti ini alot banget, dalam benak mereka beranggapan ‘ini rumah gue, apa urusannya ama elu. Karena itu kita harus melakukan pendekatan personal karena terkait dengan kenyamanan seluruh penghuni. Pokoknya, macam-macam polahnya,” imbuhnya.

Ada juga pemilik rumah minta keramik untuk menutup area 2×2 m gara-gara di dalam brosur ada gambar taman di dalam rumah. Setelah rumahnya jadi tamannya tidak ada, yang disediakan hanya area kosong sehingga konsumen yang harus membuatnya sendiri. Walhasil, area itu ditutup lantai dan keramiknya harus disediakan developer.

Kasus lain di Serenia Hills yang mencuat ke publik terkait aktris Nikita Mirzani yang dan membeli secara tunai bertahap (installment). Dalam perjalanannya pembelian rumah tersebut batal, padahal Nikita sudah mengangsur Rp1 miliar. Ia meminta uangnya dikembalikan seluruhnya. Pengembangnya menolak mengembalikan utuh karena sudah dipapaki untuk membayar komisi agen pemasaran dan pajak.

“Kita kembalikan yang masuk ke kita (pengembang), yang sudah dikeluarkan untuk pajak dan komisi tentu tidak bias (kembali). Jumlah yang dikembalikan sekitar Rp800 jutaan, makanya jadi ramai,” pungkasnya.

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me