Begini Konsep Mal Setelah Digempur Online Shop

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Perkembangan teknologi digital berbasis internet mengubah perilaku masyarakat, gaya hidup, tidak terkecuali cara berbelanja. Dulu kiblat orang berbelanja fesyen dan benda-benda lain yang terkait dengan lifestyle selalu di mal atau gerai. Sekarang model seperti itu berangsur-angsur berkurang dan ditinggalkan.  Konsumen punya alternative yang lebih efisien, mudah, dan dapat diterima langsung melalui belanja online.

Gerai IKEA

Gerai IKEA

Tren ini memukul mal dan pusat-pusat perdagangan, seperti Glodok (pusat elektonik),  Roxy Mas (gadget), Tanah Abang (garmen). Beberapa tempat itu sekarang tidak seramai masa jayanya beberapa tahun lalu, omset perdagangan merosot drastis.  Tren ini harus diantisipasi pemilik atau pengelola pusat perdagangan dan perbelanjaan dengan inovasi dan konsep baru yang pas.

Ishak Chandra, CEO Strategic Development and Services Sinar Mas Land (SML), mengakui terjadi penurunan pengunjung yang cukup signifikan di mal dan pusat komersial lainnya. Tapi, menurutnya, konsumen tidak akan serta merta meninggalkan pusat-pusat perbelanjaan dan perdagangan karena yang terjadi hanyalah perubahan tren. “Belanja online memang luar biasa, tapi orang akan tetap pergi ke mal. Perubahan tren seperti ini hal biasa, tinggal bagaimana kita memperkuat konsep pengembangan di tempat kita supaya tetap dikunjungi orang,” ujarnya kepada housing-estate.com di Jakarta, Selasa (1/8).

Sebelum era internet seperti sekarang sudah ada beberapa tempat yang dulu menjadi ikon kota kemudian redup dan ditinggalkan konsumen. Pengunjung beralih ke tempat lain yang menawarkan konsep baru dan berbeda. Perubahan seperti ini sifatnya alamiah tapi dengan kemajuan teknologi semuanya berlangsung lebih cepat.

Karena itu mal harus memperkuat konsep pengalaman (experience) baru yang bisa langsung dirasakan pengunjung. Sudah ada yang berjalan, misanya bidang kuliner (food and beverage/F&B) dan hobi yang konsepnya lebih khusus dan spesifik sesuai kebutuhan pasar. “Mal yang sudah beroperasi harus mengubah konsep, ke depan yang akan berjalan (konsep) experience mall dan itu yang harus diperkuat. Semaju apa pun teknologi media sosial tetap butuh tempat untuk pertemuan dan hangout,” pungkasnya.

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me