Bahan Bangunan Hijau itu Penting, karena Hidup Kita 80 Persen Dalam Bangunan

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Sebuah bangunan dikatakan green atau ramah lingkungan juga tidak lepas dari bahan bangunan yang dipakainya. Chairman of Green Product Council Indonesia (GPCI) Hendrata Atmoko menyebutkan, ada tiga kriteria yang harus dipenuhi bahan bangunan agar bisa disertifikasi sebagai material hijau.

produkhijau-foto

Pertama, healthy atau memenuhi unsur kesehatan, tidak ada efek beracun (toksid). Kedua, sustainable, setelah dipakai bahan bangunannya bisa didaur ulang agar jangan menjadi sampah. Ketiga, carbon footprint atau jejak karbonnya menyangkut emisi gas buang yang dihasilkannya baik dalam proses produksi maupun distribusi minimal. Misalnya, untuk pengangkutan bahan baku dari tempat asal sampai ke pabrik untuk diolah. Makin jauh jaraknya, makin banyak jejak karbonnya yang berarti kurang ramah lingkungan.

“Kriteria ketiga carbon footprint itu yang spesifik untuk Indonesia, karena efisiensi energi dan air penting diterapkan selama proses produksi sehingga berkontribusi melestarikan sumber daya alam dan mengurangi emisi,” katanya dalam talk show peluncuran produk bahan bangunan hijau di Jakarta, Rabu (2/8).

Hendrata melalui GPCI yang digagas sejak 2015 dan didukung  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ingin mendorong seluruh masyarakat memperhatikan aspek lingkungan dalam pemakaian bahan bangunan. “Hampir 80 persen hidup kita berada dalam bangunan. Jadi, penting memperhatikan pemakaian materialnya,” ujar Hendrata.

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me