Apa Beda Kolektor dengan Investor?

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Di dunia real estate dikenal dua tipe konsumen. Yaitu, yang membeli properti untuk didiami sendiri (end user) dan yang membelinya sebagai instrumen penyimpan kekayaan yang kerap disebut investor. Menurut pengamat properti Panangian Simanungkalit, ketika memutuskan membeli properti entah untuk ditinggali sendiri atau sekedar koleksi, orang memang dengan sendirinya berinvestasi tapi dia belum tentu investor.

Ilustrasi

Ilustrasi

Banyak orang membeli properti sekedar karena dia merasa lebih aman dan nyaman menyimpan kekayaan di situ. Misalnya, karena nilainya pasti naik dan bisa diuangkan berapapun harganya. Tidak seperti tabungan atau deposito yang dijamin kembali (bila bank tempat menyimpan dana bermasalah) hanya Rp2 miliar/nasabah. Bisa juga karena kenaikan nilai properti selalu melampaui inflasi dan pendapatan bunga deposito selain bisa dipamerkan dan menjadi simbol status.

Contoh, rumah seharga Rp310 juta saat ini, lima tahun kemudian akan bernilai Rp500 juta bila naik rata-rata 10% per tahun, atau bersih sekitar Rp460 juta bila dijual setelah dikurangi pajak, bea dan biaya. Sebaliknya kalau didepositokan dengan bunga 8% per tahun, duit Rp310 juta itu hanya menghasilkan pendapatan bunga bersih Rp410 juta. Itu bisa terjadi karena bunga deposito dihitung fixed (tetap) dari nilai duit yang ditanamkan di awal investasi (Rp310 juta), sedangkan surplus dari investasi properti bersifat berganda (compounded), dihitung dari akumulasi nilainya setiap tahun.

“Nah, tipe konsumen ini disebut kolektor. Inilah yang banyak di Indonesia. Mereka membeli lebih sebagai koleksi, bukan karena pertimbangan investasi yang seksama. Bagi mereka, sudah untung saja saat propertinya nanti dijual sudah cukup,” katanya. Sebaliknya, investor membeli benar-benar untuk mendapatkan pengembalian (return) dari propertinya, baik berupa surplus kenaikan harga (capital gain) saat properti dijual maupun hasil sewa (yield).

Karena itu investor akan memilih betul properti yang akan dibelinya, yang benar-benar berpotensi memberikan return optimal. Yaitu, yang mudah disewakan dan menghasilkan cash flow memadai dari penyewaan dalam jangka pendek, dan capital gain yang tinggi dalam jangka menengah panjang. Untuk itu investor perlu membuat perencanaan dan perhitungan yang seksama: mau dapat untung berapa, harus beli properti seperti apa, di mana, kapan, berapa harganya, dan dengan cara bagaimana (tunai, tunai bertahap, atau kredit)?
Dan, itu melelahkan. Si investor harus punya pemahaman memadai mengenai investasi properti dan rajin mengikuti perkembangan pasar. Mereka juga harus tekun berburu properti dengan potensi cuan tinggi. Pakemnya, periksa 50 atau bahkan 100 properti, pilih 10 yang kira-kira masuk kriteria layak investasi, ciutkan menjadi 3 sebelum beli salah satunya. “Ibaratnya, kalau kolektor masuk (ke pasar) mudah, keluar susah, investor sebaliknya. Masuk susah, keluarnya mudah. Kalau dia mau jual, orang langsung berbaris mau beli propertinya,” jelas Panangian. Sementara properti kolektor, ditawarkan sekarang, sekian tahun kemudian belum laku juga. Atau laku tapi dengan harga diskon.

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me