Aksi Unjuk Gigi dan Unjuk Gengsi BUMN Properti (1)

Big Banner

Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi Agustus 2017, menurunkan lkaporan utama (Fokus) tentang geliat para pelabuku bisnis properti dari jajaran BUMN sektor peroperti. Disebutkan kendati di tengah situasi bisnis yang masih dibayang-bayangi Sentimen negatif, sederet badan usaha milik negara (bumn) berlomba untuk mendiversifikasikan usahanya Ke industri properti.

Ketersediaan landbank serta dukungan financial yang kuat menjadi bekal bagi Pengembang-pengembang plat merah tersebut untuk bersaing dengan baron-baron properti. Termasuk, jeli dalam melirik dan memanfaatkan peluang-peluang Terkini. Alhasil, ada yang lahir dan langsung berlari, meski tak sedikit yang menikmati prosesnya sambil Mengatur strategi ekspansi.

Pendatang baru di bisnis ini terus bermunculan. Sebagian besar dari mereka bukan hanya para pengembang pemula atau start up company di bidang properti, namun, juga para konglomerasi bisnis dalam negeri maupun BUMN yang mendiversifikasikan usahanya di bidang properti.

Khusus BUMN, meski tercatat sebagai pendatang baru, secara de facto mereka justru pa ling siap untuk bersaing. Ketersediaan landbank serta dukungan fi nancial yang kuat menjadi bekal bagi
pengembang-pengembang plat merah tersebut untuk bersaing dengan baron-baron properti. Termasuk, jeli dalam melirik dan memanfaatkan pe luang-peluang terkini.

Semula, hanya ada tiga BUMN yang betul-betul bergerak di bisnis properti, yaitu Perum Perumnas, lalu PT Bali Tourism & Development Corporation (Persero) dan PT TWC Borobudur, Prambanan dan
Ratu Boko (Persero). Dua yang disebut terakhir, sesuai namanya bergerak di dalam pengembangan wisata, sedangkan Perumnas sejak awal didesain sebagai penyedia perumahan, khususnya kelas
menengah ke bawah, meski kini juga mulai merambah sektor komersial dan menyasar kelas menegah.

Sementara itu, BUMN lain yang kemudian merambah industri properti berasal dari korporasi yang bergerak di bidang jasa konstruksi (bangunan dan infrastruktur). Setidaknya, terdapat enam BUMN yang kemudian memiliki anak usaha/lini usaha khusus realty, ya itu PT Adhi Karya (Persero)
Tbk, PT Hutama Karya (Per sero), PT Pembangunan Perumahan (Persero), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero) dan PT Nindya Karya (Persero).

Belakangan, kesuksesan diversifikasi ini juga mulai dilirik sejumlah BUMN lain. Bermodalkan aset yang berada di lokasilokasi strategis (baca: di dalam perkotaan atau wilayah yang berpotensi tumbuh), beberapa BUMN yang bergerak di bidang transportasi, tambang, telekomunikasi,
finance dan core business lainnya mulai serius untuk membidani lahirnya “divisi” properti.

Misalnya saja, PT Telkom Tbk (Telkom Property), PT KAI dan PT Angkasa Pura, PT Timah Properti, Jasa Marga Property, serta Pegadaian Pro perty. Fungsi divisi/ unit usaha itu umumnya hampir serupa, yaitu mengoptimalkan aset perusahaan yang tersebar di banyak tempat, guna menambah
pendapatan perusahaan yang dilakukan dengan pola kerjasama. Skema ini ditempuh terutama setelah adanya Intruksi Menteri BUMN No KEP-109 /MBU/2002 tentang sinergi antar BUMN.
Selengkapnya di mpiedisi terbaru.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui: https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia lebih praktis dan lebih ekonomis).

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me