Siasat Pusat Perbelanjaan Hadapi Gempuran Bisnis Online (2)

Big Banner

Senior Associate Director Colliers International Indonesia mengatakan, menggeliatnya bisnis jual
beli online memang merupakan tantangan bagi mal atau pusat belanja. Namun dampaknya tidak akan signifikan karena semua yang berhubungan dengan experience, gaya hidup dan hiburan yang tidak bisa diperoleh dari belanja online.

“Tidak semua barang bisa dibeli lewat online. Banyak juga orang yang kalau membeli sesuatu haru lihat dan mencoba fisiknya,” kata Steve seperti dikutip Kontan.

Selain, itu tambahnya, mal saat ini sudah memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat di kota-kota besar seperti Jabodetabek karena banyak memiliki kebutuhan dan bisa dipenuhi di dalam mal. Seperti melakukan pertemuan bisnis, nongkrong, makan, dan mencari hiburan bersama keluarga. Memang tidak semua mal berkembang dengan baik. Itu karena pengelola mal tidak melakukan inovasi sesuai perkembangan yang ada.

Steve mengatakan, pusat belanja merupakan bisnis yang dinamis. Jika pengelola tidak bisa melakukan inovasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang terus berubah maka perlahan akan tenggelam. Menurut Steve, pusat belanja ke depan masih akan mengalami pertumbuhan mes kipun pemainnya terus bertambah.

Dengan catatan pengelolanya mampu menawarkan konsep yang menarik karena kebutuhan akan mal masih sangat besar. Dia melihat sudah banyak pusat belanja di Jabodetabek melakukan pembenahan diri saat ini untuk menyesuaikan dengan kebutuhan yang ada, misalnya dengan mengurangi departemen store dan menambah area ritel yang berkaitan dengan lifestyle dan kuliner.

Hal senada juga dikatakan Wahyu Sulistio, Direktur PT Metopolitan Land Tbk. (Metland) yang saat ini memiliki tiga pusat perbelanjaan yakni Metropolitan Mall, Grand Metropolitan, dan Metropolitan Mall Cileungsi. Menurut Wahyu, budaya masyarakat Indonesia yang guyub menjadi faktor yang membuat pusat perbelanjaan tidak akan ditinggalkan. Banyak aktifitas yang bisa dilakukan di pusat perbelanjaan bersama keluarga, teman, dan mitra bisnis.

“Sekarang pusat perbelanjaan tidak hanya untuk berbelanja tetapi juga mendapatkan hiburan dan melakukan rekreasi,” kata Wahyu. Di berbagai daerah, lanjut Wahyu, pusat perbelanjaan juga masih menjadi sesuatu yang baru sehingga pusat perbelanjaan disambut antusias oleh masyarakat.

“Apalagi populasi di sekitar pusat perbelanjaan sangat besar maka pusat perbelanjaan tersebut akan ramai,” ujar Wahyu seraya mengatakan pusat perbelanjaan di Jabodetabek masih memiliki potensi yang besar. Menurut Wahyu, pusat perbelanjaan di Indonesia berbeda dengan pusat perbelanjaan di Singapura dan Kuala Lumpur.

“Populasi di Kuala Lumpur apalagi Singapura sedikit, pusat perbelanjaan yang ada mengandalkan traveller, pengun-jung dari luar. Saat krisis ekonomi kurang baik dan jumlah traveller turun maka pusat perbelanjaan tersebut terkena imbasnya,” kata Wahyu.

Stepanus Ridwan, Direktur Utama PT Pakuwon Jati Tbk. juga melihat perkembangan e-commerce tidak akan mematikan pusat belanja. Apalagi dengan karakter masyarakat Indonesia senang melakukan silaturahmi atau berkumpul dengan keluar atau teman-teman dekat membuat peran mal masih sangat dibutuhkan. “Sekarang kalau kita ketemu teman dan keluar serta mau cari hiburan di Jakarta ini, pergi ke mal.” jelasnya.

Ridwan menambahkan, yang perlu dilakukan pengelola mal adalah bagaimana mengembangkan konsep yang bisa menarik pengunjung datang ke pusat belanja tersebut. Dengan konsep yang menarik dan juga dengan berhasil mendapatkan tenan yang mampu mendorong pertumbuhan pengunjung maka prospek pusat belanja akan tumbuh.

Saat ini Pakuwon memiliki tiga pusat belanja di Jakarta yakni Kota Kasablanka Mall, Gandaria City dan Blok M Plaza dengan tingkat okupansi masing-masing 99%, 96% dan 90% di kuartal 2017. Tahun ini, perusahaan akan merenovasi Blok M Plaza dan nantinya akan terintegrasi dengan stasiun MRT.

“Setelah renovasi akan diubah. Kami akan lebih banyak mencari tenan yang menawarkan life style yang bisa menarik pengunjung,” kata Ridwan.

Sementara Steve menambahkan, prospek pusat belanja yang dikembangkan dalam proyek kawasan terpadu (mixed use) akan lebih bagus dibanding dengan mall yang berdiri sendiri. Selain itu, beroperasinya proyek MRT dan LRT ke depan diperkirakan akan meningkatkan kebiasaan belanja masyarakat.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui: https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia lebih praktis dan lebih ekonomis).

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me