Hingga 5 Tahun Mendatang, 5 Kota di India Rajai Pertumbuhan Ekonomi di Asia Pasifik

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Di antara kota-kota di Asia Pasifik, Delhi akan menjadi kota yang paling tinggi pertumbuhan ekonominya tahun 2021. Pertumbuhannya berlipat 50 persen dibanding akhir tahun lalu menjadi 8,3 persen. Demikian studi Oxford Economics bertajuk “Asian Cities & Regions Outlook 2016”.

Kota Banglore India

Kota Banglore India

Studi reguler itu dilakukan atas 30 kota besar dan dinamis di Asia dan Pasifik dengan kriteria penilaian pendapatan per kapita, industrial output, pasar tenaga kerja, demografi, perumahan, dan segmentasi tingkat pendapatan. Oxford Economics adalah lembaga survei yang berafiliasi dengan Oxford University, Inggris.

Sektor jasa dan layanan bisnis diproyeksikan akan menjadi sektor yang paling cepat pertumbuhannya di India dan Delhi. Artinya tingkat pendapatan pekerja di sektor itu juga yang paling tinggi. Studi itu juga menunjukkan, selain Delhi, lima kota di India lain juga mendominasi peringkat teratas. Yaitu, Chennai, Mumbai, Hyderabad, Kolkata dan Bangalore.

Serupa Delhi, kota-kota tersebut akan tumbuh sangat pesat dalam lima tahun ke depan, di atas 7 persen. Jauh melebihi rata-rata tingkat pertumbuhan kota-kota di Asia Pasifik dalam periode 2017-2021 yang 4,2 persen. “Batasan atas kepemilikan asing untuk perusahaan-perusahaan-India perlahan mulai dilonggarkan,” kata Mark Britton, kepala ekonom Oxford Economics.

Dalam jangka pendek, jelasnya, kondisi sektor jasa di Delhi makin kondusif, ditunjukkan oleh banyaknya investor asing yang berminat masuk. Jadi, dalam jangka panjang tingkat pendapatan di sektor itu akan bergerak naik. Beberapa investor asing terus mengincar kota-kota di India. Muji, perusahaan barang konsumen asal Jepang, contohnya.

Menurut Ryohin Keikaku Co, induk perusahaan Muji, India adalah pasar besar setelah Tiongkok. Perusahaan toko online yang berbasis di Amerika Serikat, Amazon.com, juga akan berinvestasi di India untuk mempermudah layanan food supply chain-nya.

Di antara lima kota di India di peringkat teratas itu, terselip Ho Chi Minh yang menempati posisi kedua (tumbuh 7,9 persen). Peringkat tinggi atas kota terbesar kedua di Vietnam ini menunjukkan, kota itu makin kuat sebagai pusat manufaktur dan sektor jasanya juga terus tumbuh.

Kota di Tiongkok tertekan

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang merosot berdampak terhadap pertumbuhan kota-kotanya walau masih termasuk 15 besar. Diproyeksikan hingga lima tahun mendatang tekanan dalam negeri masih besar, membuat permintaan barang impor cenderung menurun. Kalau periode 2012-2016 permintaan tumbuh 4,5 persen, lima tahun ke depan rata-rata hanya 4,2 persen per tahun. Meskipun demikian tingkat pertumbuhan itu masih lebih tinggi dibanding kota-kota lain di Asia-Pasifik.

Tidak heran sejumlah perusahaan asing tetap berekspansi di Tiongkok. Contohnya Starbuck, yang akan melipatgandakan jumlah gerainya di seluruh Tiongkok Daratan menjadi 5.000 sebelum tahun 2021. Sementara McDonald’s akan menambah 2.000 restoran baru. Agar bisa terus berekspansi, kedua perusahaan food and beverages asal Negeri Paman Sam itu bahkan sudah membeli saham mitra lokalnya agar bisa lebih mengontrol langsung operasional gerainya.

Dari enam kota di Tiongkok yang disurvei, Tianjin diproyeksikan akan menjadi kota yang paling cepat pertumbuhannya, mengalahkan Beijing, Guangzhou, Shanghai dan Shenzen, bahkan Hong Kong. Tianjin sendiri hingga kini punya basis ekonomi di sektor manufaktur. Pelabuhannya adalah salah satu yang tersibuk di China. Namun, ke depan sektor layanan bisnis diperkirakan yang paling berkembang.

Di mana Jakarta?

Dengan pertumbuhan 5,7 persen, Jakarta berada di posisi 14 diapit Shenzhen dan Kuala Lumpur, atau kedua tertinggi dibanding kota-kota di Asia Tenggara. Jakarta kalah dari Manila yang masuk 10 besar dengan pertumbuhan di atas 6 persen. Di Asia Tenggara, negara kota Singapura menjadi yang terendah dengan pertumbuhan kurang dari 3,5 persen.

Sementara kota-kota di Jepang relatif sudah tidak tumbuh lagi. Empat kotanya Nagoya, Tokyo, Yokohama dan Osaka menempati posisi terendah dari semua kota yang disurvei, rata-rata kurang dari 1,5 persen. Makin berkurangnya populasi usia kerja di kota-kota tersebut adalah faktor penyebabnya.

Sumber: Bloomberg dan Oxford Economics

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me