Di Apartemen Murah ini Anda Tinggal Turun Dari Rumah ke Stasiun

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Perum Perumnas dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) memulai pembangunan properti dengan konsep transit oriented development (TOD) yang mengintegrasikan hunian dan fasilitas pendukungnya dengan stasiun atau terminal transportasi massal, dalam hal ini stasiun kereta komuter Tanjung Barat, Jakarta Selatan, di jalur kereta komuter Bogor-Depok-Jakarta.

Ilustrasi

Ilustrasi (Sumber: transaksiproperty.com)

Proyek yang dinamakan TOD Tanjung Barat yang dibangun di atas lahan 1,5 ha milik KAI itu akan terdiri dari tiga menara setinggi 29 lantai yang mencakup 1.232 unit hunian tipe studio 22 m2 seharga Rp9,5 juta/m2 untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), dan tipe dua kamar 36 m2 seharga Rp15 juta/m2 untuk konsumen non MBR. Investasinya disebut Bambang Triwibowo, Direktur Utama Perumnas, mencapai Rp700 miliar.

“Setelah ini kami lanjutkan dengan peresmian proyek TOD di stasiun Pondok Cina dan stasiun-stasiun lain. TOD ini adalah proyek hunian yang diintegrasikan dengan fasilitas dan sarana transportasi massal, sehingga penghuni bisa lebih cepat dan murah mencapai tempat kerjanya. Dari sini ke (pusat bisnis utama Jakarta di Jalan) Sudirman misalnya, hanya 30 menit dengan tiket Rp3.000. Jadi, selain lebih efisien, penghuni juga jadi punya banyak waktu berkumpul dengan keluarganya,” katanya saat prosesi ground breaking (pemancangan tiang pertama) di lokasi proyek di Jalan Raya Lenteng Agung, Selasa (15/8).

Jadi, dari hunian masing-masing penghuni tinggal turun ke bawah untuk mencapai peron stasiun. Selain dengan stasiun kereta Tanjung Barat, apartemen juga terintegrasi dengan dua halte angkutan umum di seberangnya yang dihubungkan dengan jembatan penyeberangan orang (JPO).

Hadir juga dalam acara itu Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat.

Apartemen dilengkapi fasilitas ritel di lantai 1-2 dengan konsep food and beverage (F&B) ditambah sedikit fasilitas lain. Jadi, sebelum berangkat kerja, penghuni bisa sarapan dulu di situ atau ngopi-ngopi sepulang kerja sebelum naik ke unit hunian masing-masing.

Selain dengan KAI, Bambang menyebut pihaknya juga telah meneken nota persepahaman (MoU) dengan Pemprov DKI Jakarta untuk mengembangkan hunian dengan konsep serupa. Hanya saja dengan Pemprov DKI huniannya dintegrasikan dengan pasar tradisional yang diremajakan menjadi modern. Saat ini sudah diteken MoU untuk proyek TOD di Pasar Tanah Abang, Cempaka Putih, dan Grogol.

“Kalau konsep hunian seperti ini terus diperbanyak, masalah kemacetan akan berkurang di Jakarta. Selain itu di setiap stasiun juga akan berkembang pusat-pusat ekonomi baru. Nanti kami juga akan melengkapi proyek dengan park and ride (fasilitas parkir harian) untuk mobil dan motor,” pungkas Bambang.

Karena dibangun di atas tanah milik KAI, status apartemen adalah HGB di atas HPL (Hak Pakai Lahan) dengan status unit atau satuan rumah susun (sarusun)-nya hak milik dengan sistem sewa jangka panjang (lease hold) hingga 50 tahun yang bisa diperpanjang.

housing-estate.com