Bisa Bikin Repot Bila Kaum Milenial Tidak Bisa Beli Rumah

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Kaum milenial (lahir awal tahun 1980-an sampai tahun 2000) yang sebagian sudah masuk dunia kerja, sulit punya rumah bukan hanya karena  pendapatan mereka selalu ketinggalan jauh dibanding kenaikan harga rumah, tapi juga karena suplai rumah untuk mereka juga minim.

Pasangan Muda mencari rumah di pameran properti

Pasangan Muda mencari rumah di pameran properti | Sumber foto : inapex

“Kaum milenial memang harus mau menabung sejak dini supaya bisa beli rumah. Tidak ada jalan lain, kecuali milenial yang orang tuanya berkecukupan. Tapi, menabung pun tetap tidak membuat mereka bisa beli rumah kalau suplai rumah yang cocok untuk mereka sangat minim,” kata Anton Sitorus, Kepala Riset dan Konsultansi Savills Indonesia, sebuah perusahaan konsultan properti di Jakarta, kepada housing-estate.com, akhir pekan lalu. Yang dimaksud cocok itu baik harga, lokasi, akses maupun desain hunian dan lingkungannya.

Di megapolitan Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) yang milenialnya paling banyak, mencapai 50% lebih dari total populasi yang mencapai 31,3 juta jiwa tahun 2016 misalnya, suplai apartemen hanya 1:81 alias satu unit untuk 81 penduduk, dibanding kota-kota besar lain di Asia seperti Bangkok (1:20), Kuala Lumpur (1:28), Hong Kong (1:5), dan Manila (1:46).

Sudah begitu, harganya juga selangit. Apartemen tipe studio berukuran 20-25 m2 saja rata-rata harganya sudah Rp400 jutaan/unit di Jakarta. Yang di bawah itu sangat jarang. Bila dibeli dengan kredit pemilikan apartemen (KPA) 15–20 tahun, uang muka 10%, dan bunga rata-rata 12% per tahun, apartemen seharga itu hanya mampu dijangkau kaum muda bergaji di atas Rp12 juta karena cicilannya mencapai Rp4–4,5 jutaan per bulan.

Padahal, mengacu ke data Badan Pusat Statistik (BPS), hanya sekitar 6% kaum milenial Jakarta yang berpenghasilan di atas Rp12 juta. “Jadi, mau menabung kayak apapun, umumnya kaum milenial sulit punya rumah,” ujar Anton. Bahkan, untuk kaum milenial menengah ke bawah (penghasilan Rp4-12 juta/bulan) yang mencapai 48 persen dari total populasi muda, di Jakarta hanya ada 31 ribu rumah susun sederhana (rusuna), dengan hanya 35 persennya yang bisa dibeli sebagai rusuna milik alias rusunami. Selebihnya merupakan rusuna sewa atau rusunawa. Jangan Tanya hunian untuk kaum milenial berpenghasilan di bawah Rp4 juta yang jumlahnya mencapai 46% dari populasi muda, entah ada hunian untuk mereka atau tidak.

Jangan heran kebanyakan kaum milenial yang gaya hidupnya juga cenderung lebih praktis dan easy going, malas berpikir soal punya rumah sendiri. “Karena itu riset kita (Housing the Millennials) yang dirilis awal Agustus lalu fokus pada bagaimana mencari solusi memperbanyak suplai. Dan, ini perlu peran dan keterlibatan penuh pemerintah. Pengembang sangat sulit diharapkan perannya karena mereka cari untung, suplai berdasarkan berapa mereka dapat tanah dan bahan bangunan,” jelasnya.

Ia mengakui sudah ada Perumnas dan pemerintah pusat cq Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Program Sejuta Rumah yang mensuplai rumah murah. Tapi, realisasinya jauh dari memadai untuk memenuhi kebutuhan kaum muda terutama dari sisi lokasi hunian, akses dan desain permukimannya. Berbagai skema lain harus dicari dan/atau dipelajari dari negara lain untuk mengatasi persoalan hunian kaum milenial tersebut. Kaum yang besar di tengah perkembangan pesat teknologi informasi itu tidak bisa lagi disodori hunian ala rumah atau apartemen bersubsidi yang diadopsi sejak zaman Orde Baru itu.

Anton mengingatkan, kaum milenial akan mendominasi populasi usia produktif (15 – 64 tahun) Indonesia yang konon akan mencapai 70 persen tahun 2020–2030 yang kerap disebut bonus demografi. Tidak seperti generasi sebelumnya, umumnya mereka berpendidikan tinggi. Di pihak lain kalau dulu setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi bisa menyerap 400 ribu tenaga kerja baru di sektor formal, sekarang kurang dari 200 ribu karena banyak perusahaan lebih padat modal dan mengandalkan teknologi dalam operasinya. Jadi, akan makin banyak anak muda berpendidikan tinggi itu yang menganggur atau bekerja dengan gaji kecil. “Karena itu kalau soal hunian kaum milenial ini tidak segera dicarikan solusinya sejak dini, bisa bikin repot masyarakat dan negara. Bukannya bonus, mereka malah bisa jadi beban demografi,” katanya.

housing-estate.com