Adu Strategi dan Adu Gengsi BUMN Properti.

Big Banner

Hingga kini, sedikitnya ada 13 BUMN dan anak usaha BUMN yang tercatat serius menggarap bisnis properti, dengan nilai investasi lebih dari Rp 10 triliun. Bisnis tersebut ada yang memasuki tahap rencana dan sebagian mulai direalisasikan.

Majalah Properti Indonesia (MPI) mengulasnya secara lengkap di edisi Agustus 2017. Disebutkan mayoritas dari mereka bermain di segmen perumahan kelas menengah, apartemen serta hotel budget yang memanfaatkan lahan tidak produktif untuk menciptakan pendapatan berkesinambungan (recurring income) bagi perseroan.

Terlepas apapun motif bisnis yang mereka lakukan, keseriusan dan ketangguhan mereka dalam menaklukkan pasar dan bersaing dengan para pengembang yang sarat pengalaman, patut diapresiasi. Maklum selain mempersiapkan modal besar, pekerjaan yang harus mereka lakukan tak sekadar membangun namun juga melakukan perencanaan konsep, master plan, menyeleksi kontraktor, legalitas serta yang paling utama memasarkan produk tersebut dengan cepat.

Memang, tak semuanya bisa digarap sendiri, karena itu tak sedikit yang menggandeng pihak eksternal. Begitu pun, konsep produk dan kualitas bangun an hasil besutan mereka pun tak kalah sukses dengan produk yang dikembangkan oleh developer yang sarat pengalaman untuk tidak dikatakan laris manis di pasaran.

Pengamat sekaligus Praktisi properti, Panangian Simanungkalit menuturkan, semakin atraktifnya perusahaan BUMN yang mendiversifikasikan usahanya ke bisnis properti merupakan sebuah
langkah yang positif karena akan semakin meramaikan pasar properti tanah air, sehingga persaingan menjadi lebih sehat.

Menurut Panangian, ada beberapa faktor yang membuat perusahaan BUMN tertarik untuk terjun ke bisnis properti, antara lain, pengalaman konstruksi selama puluhan tahun (untuk BUMN Karya), prospek bisnisnya besar dan tentu saja untungnya tinggi. “Menjadi pengembang pada dasarnya bukan hanya keahlian, namun juga modal dan tanah. Nah, pengembang BUMN memiliki
keduanya, selain itu, mereka juga lebih mudah dalam perizinan,” ujarnya.

Senada dengan Panangian, Direktur Ciputra Group Budiarsa Sastrawinata, mengatakan, meningkatnya trend perusahaan BUMN yang mendiversifikasikan usahanya ke industri properti merupakan hal yang wajar dan sah-sah saja, mengingat para BUMN tersebut sudah
memiliki modal berupa landbank.

Selaku pengembang swasta yang telah lebih dulu berkecimpung di industri properti, Budiarsa juga menilai hadirnya para developer pelat merah tersebut me rupakan sesuatu yang sehat dalam persaingan industri properti dalam negeri. Selain, memang ceruk pasar properti yang masih cukup besar.

“Kalau saya dari dulu paling senang dengan hadirnya para pendatang baru di bisnis properti. Sebab, dengan demikian dapat menjadi tolak ukur bagi bisnis itu sendiri. Selain itu, pasar kita juga memang cukup besar, sehingga seandainya proyek mereka banyak pun masih bisa terserap. Meskipun, ada
momen-momen tertentu dimana bisnis akan terasa over suppy dan itu hal biasa
di dunia properti (siklus),”jelas Budiarsa.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui: https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia lebih praktis dan lebih ekonomis).

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me