Monas, Simbol Perjuangan dan Kemerdekaan Bangsa Indonesia

Big Banner
Monumen Nasional, Jakarta (Rumah123/iStockphoto)

Kalau Prancis punya Menara Eiffel, makan Indonesia memiliki Monumen Nasional alias Monas. Monumen ini menjadi ikon Indonesia dan ibu kota Jakarta.

Setelah pemerintahan Indonesia kembali lagi ke Jakarta dari Yogyakarta, Presiden Soekarno menginginkan adanya sebuah monumen yang berada di lapangan persis depan Istana Merdeka.

Baca juga: Beli Rumah Lagi, Bos Amazon Buktikan Jadi Juragan Properti Kelas Kakap

Pada 1954, pemerintah membentuk komite yang menggelar sayembara. Kompetisi desain monumen baru berlangsung setahun kemudian. Ada 51 desain yang masuk, namun hanya satu yang memenuhi kriteria yaitu desain monumen karya Friederich Silaban. Dia adalah arsitek yang mendesain Stadion Gelora Bung Karno dan juga Mesjid Istiqlal.

Sayembara serupa kembali dilangsungkan pada 1960. Pesertanya melonjak menjadi 136, namun tidak satu pun desain yang memenuhi kriteria panitia lomba.

Baca juga: Wah, Ternyata Banyak Bangunan Miring di Dunia, Ga Hanya Gedung DPR Aja Lho

Panitia sempat meminta Silaban untuk menunjukkan desain kepada Presiden Soekarno. Presiden tidak menyukai desain dan meminta Silaban untuk mengubah desain karena masalah bentuk  dan juga besar monumen yang dianggap terlalu mahal.

Namun, Silaban enggan mengubahnya dan meminta pembangunan monumen dilakukan saat kondisi perekonomian negara membaik. Akhirnya presiden meminta R.M. Soedarsono untuk mengubah bentuk desain Silaban.

Baca juga: Pulau Buatan Khusus Kaum Superkaya, Tinggal atau Investasi di Sini Ya?

Soedarsono memasukkan angka 17-8-1945 yang merupakan hari Kemerdekaan RI ke  dalam desain Monumen Nasional. Desain monumen ini melambangkan lingga dan yoni. Filosofi bangsa yang diwujudkan dalam bentuk tugu (lingga) dan cawan (yoni).

Pembangunan monumen ini baru dimulai pada 1961 dan sempat terhenti setelah insiden G 30 S/PKI pada 1965. Pembangunan monumen baru dilanjutkan pada era Presiden Soeharto. Akhirnya, pembangunan Monumen Nasional selesai dan diresmikan pada 12 Juli 1975.

Baca juga: Gedung DPR Miring? Bangunan Ini Malah Dirancang Miring Beneran

Monas yang memiliki tinggi 132 meter ini memiliki sejumlah fasilitas seperti museum nasional dan amphiteather. Pengunjung bisa melihat sejarah bangsa dengan melihat diorama yang ditampilkan.

Selain itu, juga ada relief yang menggambarkan hal yang sama. Naskah asli Proklamasi Kemerdekaan yang dibacakan oleh Soekarno dan Muhammad Hatta juga dipajang di Monas.

Baca juga: Ga Masalah Kok Ngutang Asal Produktif Buat Investasi Properti

Pengunjung bisa mencapai puncak tugu yang merupakan dek observasi yang dapat menampung 50 orang. Puncak tugu Monas dilapisi dengan emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala.

Hayo, siapa yang belum pernah ke Monas? Setidaknya kamu pernah ke sini saat sekolah dulu untuk melihat ke museum dan juga ke dek observasi.

Baca juga: Mau Tau Kota dengan Harga Sewa Hunian Paling Murah?

Kalau sekarang, mungkin kamu lebih memilih untuk berolahraga di taman sekitar Monas atau malah ber-selfie?

rumah123.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me