Vilatel Hak Milik di Bali dengan Garansi Pendapatan Sewa 15 Tahun

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Sebagian besar investor masih menganggap Bali sebagai kawasan paling menarik untuk bisnis kondominium dan vila hotel (kondotel dan vilatel), kendati hingga saat ini sudah 12.000 hotel dari berbagai segmen properti yang beroperasi. Hanya, umumnya kondotel dan vilatel itu masih bersertifikat lease hold atau hak sewa 30–50 tahun. Peminatnya cukup tinggi karena pengembalian investasinya menjanjikan.

Vilatel 555 Island Bali

Vilatel 555 Island Bali

“Padahal, kebanyakan kondotel sertifikat hak guna bangunan. Apalagi kalau sertifikatnya hak milik. Pasti, lebih terjamin dan lebih menguntungkan karena propertinya selamanya milik konsumen. Kapan pun bisa dijual,” kata Joko Purwoko, Presiden Direktur Mughnio Land, pengembang Vilatel 555 Island Bali, di Tabanan (Bali), Minggu (28/8/2017).

Ia mengakui, terus mencari kiat baru untuk melancarkan pemasaran proyeknya di tengah makin mahalnya harga tanah di Pulau Dewata. Salah satunya denga menawarkan  vilatel bersertifikat hak milik itu. “Kenaikan harga tanah di Bali bisa 80-100 persen per tahun. Makin terbatasnya lahan bersertifikat hak milik membuat kenaikan harga tanah di Bali makin tinggi. Di Kuta dan Seminyak harganya sudah Rp45-100 juta per meter. Di sinilah potensi hotel makin menarik, terutama yang bersertifikat hak milik,” ujarnya.

555 Island Bali adalah vilatel dengan konsep resort di pesisir Pantai Braban, Tabanan, yang tingkat okupansi vila dan resortnya disebut 45-70%. “Tetangga kita seperti Soori Villa yang lokasinya lebih jauh dari view pantai sewanya Rp12-16 juta/malam. Ada juga Unadatu yang Rp1,2 juta per malam, okupansinya 70 persen,” ungkap Joko.

Rencananya akan dikembangkan 827 unit vilatel di atas lahan seluas 16 ha. Seluruhnya dijual kecuali 20 unit yang tetap dipertahankan sebagai milik developer. Pengelolaan vilatel oleh developer sendiri. Tipe unit 32/60 dan 56/60 seharga Rp395 dan Rp900 juta per unit (tunai). Jika dibeli secara KPR, tipe termurah dipatok Rp495 juta dengan uang muka 15% langsung lunas. Pembelian bisa juga secara tunai bertahap hingga 24 bulan dengan depe Rp50 juta.

Ia menyebutkan, pasaran sewa unitnya sekitar Rp1,5 juta/malam untuk tipe terkecil. Garansi pendapatan sewa Rp5 juta/bulan selama masa KPR maksimal 15 tahun. Pembagian pendapatan sewa 70% untuk investor, 30% untuk pengembang. Garansi sewa dihitung setelah 7 bulan vilatel beroperasi. Ia mencontohkan, bila dalam sebulan unit hanya tersewa 10 hari. Itu berarti pendapatannya Rp1,5 juta dikali 10 hari = Rp15 juta. Sebanyak Rp10,5 juta menjadi hak pemilik, sisanya untuk pengembang.

Jika harga unit termurah Rp495 juta (harga KPR), dengan plafon pinjaman Rp445 juta dan uang muka 10% atau sekitar Rp50 juta, cicilannya Rp4,5 juta per bulan dengan KPR 15 tahun dan bunga 9% per tahun. Dengan demikian pemilik unit masih dapat surplus Rp6 juta per bulan. “Jadi selama 15 tahun ibaratnya cicilan KPR-nya kita gratiskan. Kalaupun nggak dapat penyewa dalam sebulan, kita sudah kasih garansi sewa Rp5 juta per bulan,” kata Joko.

Tahap pertama dipasarkan 100 unit vilatel yang kini sudah terjual 59 unit. Developer menargetkan konstruksi tahap pertama rampung tahun depan. Surat ijin pemanfaatan ruang sudah keluar, sementara izin mendirikan bangunan (IMB) selesai Oktober. Pemesanan unit cukup dengan tanda jadi Rp5 juta/unit. Tentu saja selalu ada risiko di setiap penawaran yang menarik, karena tidak ada makan siang gratis. Makin menarik, makin berisiko. Konsumen  yang bijak selalu menanyakan dan memahami dengan baik berbagai risiko itu sebelum memesan.

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me