4 Hal yang Bikin Milenial Susah Punya Hunian, Mau Tahu?

Big Banner
Ilustrasi (Foto: Rumah123/iStock)

Boleh dibilang kaum milenial saat  ini sebagain besar sudah memasuki dunia kerja. Mereka punya penghasilan, yang kadang jumlahnya cukup mencengangkan. Tapi, mengapa mereka sulit punya hunian?

Apa saja sih yang ada di kepala mereka sehingga mereka tak menjadikan punya hunian sebagai hal penting. Belum lagi kalau bicara tentang investasi di sektor properti, kebanyakan dari mereka menanggapinya dengan dingin-dingin saja.

Baca juga: Susah Menabung? Nah, Inilah Waktunya Meramal Keuanganmu!

Aidil Akbar Madjid, seorang dosen yang mengajar tingkat S1 dan S2 di beberapa kampus di Jakarta dan luar Jakarta, di detikFinance, Rabu (30/8), berbagi pengamatannya tentang sudut pandang kaum milenial tentang keuangan dan investasi dari hasil mengobrol dan berdiskusi dengan para milenial tersebut.

Menurutnya, ada 4 hal yang menggambarkan apa sebabnya milenial sulit membeli hunian atau berinvestasi. Tentunya milenial yang dimaksud di sini adalah milenial yang hidup di kota besar dengan akses mudah ke teknologi.

Gak Banyak Menabung/Berinvestasi

Milenial cenderung tidak banyak menabung, apalagi berinvestasi. Alasannya, gak punya uang lebih. Kenapa tak ada uang tersisa? Kebanyakan pengeluaran milenial habis untuk nongkrong di kafe sepulang kantor, bahkan ada yang melakukan hal ini hampir setiap hari.

Mari kita berhitung. Kalau sekali duduk nongkrong menghabiskan uang Rp50-100 ribu, maka per minggu mereka bisa menghabiskan Rp250.000–Rp500.000 (ini hanya hari kerja, belum termasuk week-end lho). Jadi, rata-rata milenial menghabiskan Rp1–2 juta per bulan untuk nongkrong saja. Jadi, gak heran kan, kalau milenial gak bisa menabung dan berinvestasi?

Baca juga: Generasi Milenial Semakin Susah Beli Rumah, Kenapa?

Cenderung Ogah Punya Aset

Saat ini, ‘sharing economy’ menjadi kata kunci bagi milenial di dunia, termasuk juga di Indonesia. Hal ini bisa kita lihat dari berkembangnya bisnis-bisnis berbasis sharing alias berbagi dengan menggunakan (iddle capacity) alias tempat kosong yang tidak terpakai. Rata-rata kesemua ini berbasis teknologi. Sekadar menyebut contoh: penginapan AirBnB, kendaraan Uber, GoJek, Co-worsking space.

Apa dampaknya itu semua bagi milenial? Milenial jadi nyaman menyewa, apakah itu bentuknya apartemen, kos-kosan, dibandingkan dengan membeli. Bisa ditebak kan, kalau milenial gak punya aset.

Baca juga: Beli Rumah Nunggu Berkeluarga Dulu? Wah, Makin Susah Kebeli Tuh!

Gadget Terkini sebagai Penanda Status Sosial

Milenial cenderung meng-up-date gadget terbarunya. Telepon pintar, tablet, dan laptop bermerek Apple, kamera Mirrorless, jam tangan pintar yang terhubung dengan telepon pintar dan banyak lagi teknologi terbaru lainnya yang milenial gandrungi. Milenial jarang menyadari bahwa kepemilikan rumah merupakan aset yang lebih berharga ketimbang gadget terbaru yang tercanggih.

Memilih Travelling sebagai Gaya Hidup

Milenial lebih memilih bisa travelling ketimbang bisa menabung dan berinvestasi. Cenderung menghabiskan uangnya untuk jalan-jalan mencari pengalaman dan mengunjungi tempat-tempat baru.

Bagi milenial, aset terpenting adalah pernah mendatangi tempat baru. Kemajuan teknologi dan media sosial mendukung sikap milenial tentang travelling, mereka bisa memamerkan posisi mereka ketika berada di suatu tempat.

Baca juga: Ga Ada Alasan Nunda Beli Rumah, Bank Daerah Aja Dukung Pembiayaannya Lho!

Nah, paham kan sekarang kenapa ara milenial sulit punya hunian. Kalau kamu seorang milenial, sadarilah ke-4 hal tersebut di atas bikin kamu tidak pernah siap secara finansial untuk punya hunian atau aset.

Penting buat kamu untuk belajar mengelola keuangan dan berinvestasi, agar sukses menapaki hidup di masa depan, termasuk masa pensiun. Saat kamu tak produktif lagi mencari uang sementara kebutuhan hidup tak pernah berhenti.

rumah123.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me