Laporan Bisnis Properti Jogya; Bersaing di Lahan Sempit (2)

Big Banner

Salah satu dampak dari melonjaknya harga dan minimnya ketersediaan lahan di kawasan-kawasan utama Jogja pada akhirnya membuat pengembang mu- lai bergeser ke daerah pinggiran untuk
mencari harga tanah yang lebih murah.

Terbukti, beberapa daerah yang sebelumnya kurang dilirik seperti Kulon Progo dan Bantul kini menjadi incaran banyak pengembang. Selain alasan murah, ada beberapa faktor yang membuat kedua daerah ini berkembang dengan pesat. Dari segi geografi s, kontur tanah di kawasan tersebut
datar sehingga memungkinkan untuk pengembangan kawasan perumahan
landed house.

Sementara, dari sisi infrastruktur juga sangat mendukung. Terlebih lagi, Menteri Perhubungan telah
menetapkan wilayah pesisir Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo sebagai lokasi Bandar Udara Baru Yogyakarta. Pada tahap pertama, terminal penumpang yang akan dibangun yaitu seluas
130.000 meter persegi yang mampu menampung hingga 15 juta penumpang per tahunnya. Dengan landasan pacu sepanjang 3.250 meter dan area parkir pesawat berkapasitas hingga 35 pesawat. Pembangunan tahap I ini ditargetkan selesai pada Maret 2019.

Pada tahap II dilakukan pengembangan lanjutan terminal penumpang menjadi 195 ribu meter persegi, yang mampu menampung hingga 20 juta penumpang per tahun. Landasan pacu pun diperpanjang menjadi 3.600 meter dan area parkir pesawat dikembangkan menjadi berkapasitas hingga 45 pesawat, sehingga dapat melayani pesawat berbadan besar, misalnya, Boeing 747-400. Bandara nantinya juga akan memiliki akses jalan tol dan jalur kereta api yang akan memudahkan wisatawan datang tidak hanya ke Yogyakarta tapi juga ke Jawa Tengah, misalnya ke
Borobudur.

Principal Ray White, Ferry Kurniawan, menuturkan, peta bisnis properti Jogjakarta ke depannya akan mengarah ke Barat seperti Godean, Wates, Bantul dan Kulon Progo. Menurut Ferry, kepastian akan dikembangkannya bandara baru nyatanya cukup sukses untuk menstimulus pertumbuhan harga lahan di beberapa kawasan tersebut.

“Harga tanah 5 tahun lalu tepatnya sebelum ada isu pembangunan bandara itu hanya kisaran 15 ribu-20 ribu per m2. Namun, setelah ada kepastian pembangunan bandara saat ini mencapai Rp2 juta per m2, luar biasa sekali,” ujarnya.

Senada dengan Ferry, General Manager CitraGrand Mutiara Yogyakarta, Yuliarso Christiono mengaku jika dampak pembangunan bandara baru di wilayah Barat, tepatnya di kawasan Kulon Progo cukup signifi kan dalam mendongkrak kawasan sekitarnya. Hal tersebut tercermin dari suksesnya pengembangan Kawasan perumahan CitraGrand Mutiara oleh Ciputra Group.

Dikisahkan Chris- biasa ia disapa, mulanya proyek yang dipasarkan pada 2012 ini ditujukan untuk pasar kelas yang menengah, karena itu tipe rumah pertama yang di launching adalah tipe 1 lantai.

“Ternyata dalam perkembangannya, muncul kabar akan dibangunnya bandara baru sehingga membuat pasar lebih menguat dan kelasnya naik menjadi menengah atas,” papar Chris. MPI Riz

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:

https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia

atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me