2019, Rusunami dan Anami di Stasiun Tanjung Barat Bakal Rampung

Big Banner

Ilustrasi. Foto: Rumah123/Jhony Hutapea

Rusun TOD (Transit Oriented Development) di Stasiun Tanjung Barat, Jakarta Selatan, direncanakan akan rampung pembangunannya pada 2019. Sebagaimana diketahui, groundbreaking proyek Perum Perumnas dan PT KAI ini telah dilaksanakan pada 15 Agustus 2017 lalu. Boleh dibilang animo masyarakat cukup bagus. Baru dua minggu dibuka, daftar nomor urut pemesanan (NUP) telah mencapai 1.000.

“Proyek ini akan kami selesaikan dalam dua tahun di atas lahan 1,5 hektare,” kata Direktur Umum Perumnas, Bambang Triwibowo, seperti dikutip DetikFinance, Kamis (31/8).

Baca juga: Hunian di Stasiun? Makin Gampang Aja Dong ke Mana-Mana!

Rencana konstruksi proyek rusun yang terintegrasi moda transportasi kereta ini akan dilakukan satu hingga dua bulan setelah groundbreaking. Yakni pasca-rampungnya seluruh izin pembangunan.”Izin itu kan kalau di Jakarta ada KRK, izin fondasi, struktur, macam-macam. Kalau groundbreaking kan ada izin sendiri juga. Makanya ini belum penjualan. Nanti kalau sudah izinnya selesai semua, baru bisa mulai konstruksi dan penjualan,” kata Direktur Pemasaran Perumnas, Muhammad Nawir, dikutip dari sumber yang sama.

Harga hunian Rusun ini boleh dibilang murah, tapi itu yang untuk kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) saja lho, yakni mereka yang terkategori berpenghasilan Rp4-7 juta per bulan. Harga huniannya memang mendapatkan subsidi dari pemerintah.

Baca juga: Horeeee.. Rusun Stasiun Tanjung Barat Bakal Turun Harga

Akan tetapi, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi, selain besaran gaji Maksimal Rp7 juta, juga harus merupakan rumah pertama, dan ber-KTP DKI Jakarta. Usia minimal 21 tahun. Jumlahnya pun tak sampai 300 unit dari total unit Rusun seluruhnya yang berjumlah 1.232 unit.Muhammad Nawir mengatakan, harga untuk Rusun Stasiun Tanjung Barat belum final ditentukan, termasuk jumlah cicilan, tenor, dan besaran bunga untuk hunian non-subsidi. Namun, jika mengikuti aturan, maka harga hunian untuk MBR akan dipatok Rp9,2 juta/m2 dan untuk non-MBR atau komersial sebesar Rp16-18 juta/m2.

Rencananya, akan ada dua tipe hunian, yakni tipe studio dengan 1 kamar seluas 22 m2 dan tipe 2 kamar tidur seluas 32 m2. Mengacu pada perkiraan harga di atas, maka harga terendah untuk rumah subsidi sekitar Rp202.400.000 yang luasnya 22 m2. Sedangkan harga tertingginya yakni Rp294.400.000 untuk unit seluas 32 m2.

Baca juga: Hunian TOD Tanjung Barat, Rusunami bagi MBR dan Anami untuk Non-MBR

Untuk yang non-subsidi (Anami), harganya sekitar Rp352 juta untuk tipe studio (22 m2) dan Rp512 juta untuk unit seluas 32 m2.Hunian terintegrasi KRL (kereta rel listrik) dan moda transportasi umum yang lainnya ini baru akan dipasarkan pada September. Soal kepemilikan Rusunami ini, berjangka waktu hingga 50 tahun.Nantinya, di dalam area Rusunami ini akan dilengkapi zona komersial: kios, F&B (food and beverage), modern dan tradisional ritel, yang rencananya bakal disewakan. Selain itu ada pula fasilitas tempat parkir yang total keseluruhannya sekitar 4.186 m2 yang diprioritaskan kepada para penghuni.

rumah123.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me