Co-Living Tren Baru Tinggal Bersama Sejawat

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Co-living. Istilah ini belakangan jadi tren di sejumlah kota besar seperti Hong Kong, Shanghai, Los Angeles, dan London. Serupa dengan co-working yang gampangnya berarti “berbagi ruang kerja”, co-living berarti “berbagi ruang untuk tinggal bersama”. Konsep ini mirip tinggal di asrama atau tempat kos. Area privat hanya kamar tidur. Ruang lain seperti ruang duduk, dapur bahkan kamar mandi, berbagi dengan penghuni lain (room mates).

Ilustrasi

Ilustrasi

Tren ini muncul seiring berbiaknya bisnis berbasis teknologi informasi. Merasa tidak lagi cukup dengan “ruang kerja bersama”, padahal pekerjaan belum selesai atau masih perlu diskusi lanjutan, muncul kebutuhan terhadap tempat tinggal bersama. Sebab itu ada juga yang menyebutnya hacker house, mengacu pada sebutan profesi peretas sistem komputer.

Tahun 2004 Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, juga pernah menyewakan rumahnya yang berisi lima kamar di Palo Alto, AS, kepada pekerja media sosial yang didirikanya itu. Ide awalnya, co-living bisa memunculkan kolaborasi dari komunitas tersebut. Sebab itu biasanya penghuni berasal dari profesi yang sama atau bersinggungan. Yang penting mau berbagi ruang bersama dan siap bersosialisasi dengan sesama rekan serumah. Bercampur gender pun tak masalah tapi terutama yang masih lajang.

Tapi belakangan penghuni co-living berisi dari beragam profesi. Bukan lagi hanya para pekerja di sektor teknologi informasi atau dunia kreatif, juga perbankan atau institusi keuangan. Ini terjadi terutama di kota-kota di mana harga rumahnya sudah sangat melangit sehingga makin sukar dijangkau kaum milenial. “Di sini sangat terbatas rumah yang harganya terjangkau generasi muda saat ini,” kata Keith Wong, the co-founder of Synergy Biz Group Ltd, sebuah perusahaan penyedia co-working dan co-living di Hong Kong kepada Bloomberg awal September lalu.

Synergy Biz baru menyelesaikan Bibliotheque di Yu Ma Tei, daerah Kowloon. Proyek co-living itu semula apartemen tua berusia 50 tahun dengan unit berukuran 37,2 m2 satu kamar. Sekarang dirancang ulang menjadi unit apartemen yang bisa dihuni 10 orang, dilengkapi ruang bersama untuk masak dan bercengkerama, serta dua kamar mandi. Tarif sewanya 3.500-5.500 dolar Hong Kong per bulan atau sekitar Rp6-9,3 juta.

Contoh lain Mini Ocean Park Station di distrik Shousun Hills, Hong Kong bagian selatan. Hunian bersama ini awalnya apartemen mewah yang kemudian diubah oleh konglomerat asal Filipina, pemilik Eton Properties, Lucio Tan, dari semula 18 unit menjadi 270 unit hunian mikro (7,4-9,3 m2 per unit). Luas unit ini disebut-sebut bahkan lebih kecil daripada ukuran rata-rata lot parkir di gedung parkir di Hong Kong.

Area bersamanya dibuat di lantai bawah, yang antara lain berupa ruang duduk dengan sofa nyaman, lalu ruang servis dengan mesin cuci. Tiap unit disewakan 8.500 dolar Hong Kong per bulan atau sekitar Rp 14,4 juta. Penyewanya, kata Cynthia Cheung, marketing managernya, kebanyakan mahasiswa yang mau memulai usaha start up.

Untuk bisa memuat sekian banyak orang, kamar tidur Bibliotheque didesain serupa kotak susun yang hanya berukuran kasur single (90 x 200 cm2), berpintu geser, tanpa jendela ke sisi luar. Agar nyaman digunakan kasur yang baik dan dindingnya di-finishing dengan lapisan kayu dilengkapi lampu tidur. “Pokoknya ada ruang privat untuk diri sendiri, itu sudah cukup,” kata Wong.

Ukuran kamar dan kelengkapan co-living bisa sangat beragam. Ada juga yang berukuran kamar tidur lazimnya seperti umumnya dilengkapi lemari dan meja kecil seperti Common di New York, Amerika Serikat (AS). Menurut catatan Bloomberg, sejak tahun 2015 di Hong Kong sedikitnya ada enam proyek co-living yang dibangun. Wong menyebutkan, sudah ada sekitar 400 orang yang mendaftar untuk menempati 120 tempat tidur dari enam proyek tersebut yang akan dibuka pada kwartal empat tahun ini.

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me