Pentingnya Sekuritisasi KPR Untuk Himpun Dana Jangka Panjang

Big Banner

Bali, mpi-update. Dalam upaya mendukung pencapaian Program Sejuta Rumah (PSR), pemerintah mengeluarkan kebijakan bantuan pembiayaan perumahan lewat KPR bersubsidi. Namun, dukungan KPR Bersubsidi untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) mengalami tantangan terutama dana jangka panjang.

“Untuk menghimpun dana jangka panjang tersebut dibutuhkan keberadaan pasar modal yang beroperasi secara efektif dan efisien yang didalamnya diperdagangkan instrumen utang, surat berharga (bond) atau fixed-income securities lainnya termasuk sekuritisasi asset KPR” ujar Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan, Kementerian PUPR, Lana Winayanti selaku keynote speech mewakili Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pada acara ASIAN Fixed Income Summit 2017(AFIS), di Bali (7/9).

“Sekuritisasi merupakan salah satu cara untuk menyalurkan dana dari pasar modal ke sektor perumahan terbukti efektif di beberapa negara. Melalui sekuritisasi, kreditur asal (bank penerbit KPR) mampu memiliki dana jangka panjang sekaligus menanggulangi masalah miss-match pendanaan sehingga lebih banyak lagi KPR diterbitkan sebagai suatu instrument investasi yang aman”, ujar Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan, Lana Winayanti seperti dikutip dari situs resmi PUPR.

Di Indonesia, ujarnya, terdapat beberapa institusi yang berperan dalam mengembangkan Sekuritisasi KPR yaitu, Bank Indonesia, OJK, dan Kementerian PUPR, Kementerian Keuangan, termasuk PT. Sarana Multigriya Finansial sebagai satu-satunya badan usaha yang mendapatkan mandat untuk menjalankan bisnis sekuritisasi asset KPR di Indonesia.
“Bersama-institusi tersebut, Kementerian PUPR akan melakukan yang terbaik bagi pengembangan efisiensi sistem pembiayaan perumahan”, ucap Lana Winayanti.

Selanjutnya Ia juga mendorong para investor untuk berinvestasi di Indonesia. “Berdasarkan hasil pemeringkatan terbaru yang dikeluarkan oleh 3 (tiga) lembaga pemeringkat international, Indonesia merupakan negara yang sekarang ini mendapat peringkat Investment Grade. Artinya dipandang aman dan positif untuk investasi.
“Oleh karena itu, kami berharap biaya dana untuk dana jangka panjang di masa depan dapat semakin mengecil dan pada akhirnya dapat menurunkan suku bunga KPR”, jelasnya.

Di sisi lain, Wakil Ketua Dewan Komisioner, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Nurhaida yang juga hadir pada kesempatan yang sama mengatakan tidak mudah mencari produk yang dapat disekuritisasi.

“Kalau kita lihat KPR, yang disekuritisasi adalah cicilan KPR dan bersifat jangka panjang. Untuk MBR, mereka cukup potong gaji dan pembayarannya lebih pasti, resiko kecil. Bank akan melihat hal tersebut sebagai aset yang bagus dan tentunya akan melepasnya dalam bentuk EBA-SP. Aset-aset yang disekuritisasi syaratnya harus aset yang memiliki kualitas yang bagus dan tidak menimbulkan resiko bagi investor”, tegas Nurhaida.

Di EBA-SP, ujar Nurhaida lagi saat ini dana pensiun mencapai 48%. Sementara jenis lainnya adalah dari asuransi dan perbankan. Lebih jauh lagi Nurhaida mengatakan untuk mendorong sekuritisasi oleh perbankan agar dapat memberikan KPR lebih banyak lagi kepada masyarakat ada dua hal yang harus dilakukan. “Pertama dari produk, kita harus mendorong lebih banyak perbankan untuk melakukan sekuritisasi. Kedua, kalau produknya sudah banyak maka tingkat demandnya harus ditingkatkan baik untuk domestik maupun internasional”, ungkap Nurhaida.

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me