Sama-sama Bakal Kena Pajak, Pilih Mana Beli iPhone X atau Investasi Properti?

Big Banner
CEO Apple Tim Cook Saat Memperkenalkan iPhone X (Rumah123/CNN)

Apple mau rilis iPhone X? Wah, pakai teknologi augmented reality? Ada teknologi face recognition juga? Waduh, bakalan kena pajak tinggi?

Perbincangan soal produk terbaru Apple memang hangat sejak pekan lalu. Apple akan merilis tiga smartphone baru yaitu iPhone 8, iPhone 8 Plus, dan iPhone X.

Baca juga: Berapa Lama Generasi Milenial Nabung DP Rumah? 32 Tahun!

Masing-masing dirilis dalam dua versi, versi 64 GB dan juga 256 GB. Harganya terentang dari 699 dollar AS (Rp9,2 juta) hingga 1.149 dollar AS (Rp15,1 juta). Harga paling tinggi sudah tentu iPhone X 256 GB. Harga ini merupakan harga rilis di Amerika Serikat. Kalau di Indonesia bakal lebih mahal lagi.

Kemunculan smartphone mahal terutama iPhone X ini membuat Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan langsung berkomentar via media sosial seperti Twitter, Instagram, dan Facebook.

Baca juga: Bisa Beli Moge, Masa Milenial Ga Bisa Beli Rumah Sih?

“Lagi heboh smartphone yang baru rilis ya? Ingat, tambahkan smartphone di kolom SPT Tahunan ya,” kicau Ditjen Pajak di akun Twitter @DitjenPajakRI pada Kamis (14/9/2017).

“Eh jangan salah lho. Melaporkan harta di kolom harta pada SPT Tahunan bukan berarti ada pajak yg harus dibayar lagi. Ini cuma soal lapor,” cericit @DitjenPajakRI lagi.

Baca juga: Hati-Hati Godaan Gaya Hidup Bikin Generasi Milenial Ga Bisa Punya Rumah

Netizen alias warganet pun mengalihkan pembicaraan dari kecanggihan dan mahalnya iPhone X ke soal masalah pengenaan pajak dan pelaporan smartphone dalam surat pemberitahuan tahunan (SPT) pajak.

Terlepas dari semuanya, memang menarik kalau smartphone premium menjadi perbincangan di seluruh dunia. Sebenarnya sih nggak heran juga karena produk yang dirilis Apple memang selalu dinanti.

Baca juga: Milenial Pilih Tinggal di Kawasan Sub Urban, Nah Begini Dong!

Chief executive officer (CEO) Apple, Tim Cook pernah menyatakan kalau iPhone memberikan dampak besar bagi para pengguna smartphone. Produk-produk Apple pun sudah menjadi bagian hidup kaum urban terutama generasi milenial.

Buat kamu generasi milenial, kamu dihadapkan pada pilihan yaitu mengutamakan gaya hidup dengan memiliki smartphone premium atau berinvestasi jangka panjang dengan memiliki properti.

Baca juga: Milenial Terus Gerakkan Pasar Properti, Tapi Belum Dilirik Developer dan Perbankan

Kalau kamu mementingkan gaya hidup, kamu bakal terlihat keren. Tetapi pernah memikirkan apakah pendapatan kamu cukup untuk membeli produk gadget (gawai) mahal?

Kalau kamu bisa mencicil via kartu kredit, bayangkan kalau kamu membeli smartphone seharga Rp15,1 juta dan dicicil selama setahun, kamu harus menyisihkan sebagian pendapatan untuk sebuah barang yang harganya akan turun drastis ketika cicilan lunas.

Baca juga: Edukasi Properti Itu Penting Banget Buat Milenial

Setelah beberapa waktu, euforia iPhone X pun berlalu. Kamu hanya bisa membanggakan kalau pernah punya smartphone keren? Terus apalagi?

Kalau kamu menjual smartphone ini dan ingin membeli produk baru, apakah harga jualnya sama dengan harga beli? Sudah pasti harganya telah terjun bebas.

Baca juga: 10 Kawasan Paling Asyik Buat Dikunjungi, Milenial Mesti Catat Ya!

Sebaliknya, pernahkah kamu membayangkan untuk berinvestasi properti? Bayangkan kalau uang muka apartemen murah atau rumah sederhana bisa jadi tidak berbeda jauh dari harga smartphone.

Mungkin kamu harus bersusah payah untuk mencicil uang muka dan juga cicilan kredit pemilikan rumah (KPR) atau kredit pemilikan apartemen (KPA). Namun, setelah beberapa saat, harga properti dipastikan naik.

Baca juga: Kawasan Sub Urban Lebih Hidup Karena Pengaruh Milenial, Beneran Lho

Berapa kenaikan harga properti? Kenaikannya memang beragam tergantung banyak hal. Namun, investasi properti memang unik.

Seperti yang pernah diungkapkan oleh Country General Manager Rumah123, Ignatius Untung bahwa barang bekas yang harganya terus naik adalah properti. Kalau kamu membeli properti dengan  harga Rp200 juta, coba jual saja dalam tempo tiga empat tahun kemudian, apakah harganya sama? Sudah pasti harganya naik.

Baca juga: Sulitnya Mengubah Kultur Generasi Milenial, Wah Ini PR Banget Nih

Meskipun properti yang kamu miliki juga dikenakan pajak, namun kamu bisa lihat dari surat pajaknya yang menyatakan kalau setiap tahunnya, nilai tanah dan bangunan pasti naik. Coba cek saja NJOP (nilai jual obyek pajak).

Nah, kalau sudah begini, mana yang kamu pilih? Beli smartphone yang harganya terus menurun atau membeli properti yang harganya terus naik?

Baca juga: Jalan-jalan atau Tinggal di Mars ya? Ini Dia Pilihan Kekinian Buat Generasi Milenial

Kalau dompet kamu sedang menipis, berapa yang kamu dapatkan dari menjual smartphone? Paling hanya beberapa juta atau malah beberapa ratus ribu rupiah saja. Uangnya masih bisa kamu simpan dalam dompet.

Sebaliknya, kalau kamu menjual rumah sederhana atau apartemen studio kamu, bayangkan kamu membutuhkan beberapa karung atau kardus untuk menyimpan uang hasil penjualan.

rumah123.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me