Ini Yang Membuat Mal Jadi Sepi

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Fenomena mal yang makin sepi, bahkan sejumlah gerai pusat perbelanjaan ditutup, disebut salah satunya akibat perkembangan belanja online yang sangat pesat. Menurut Direktur Marketing apartemen Green Pramuka City Jeffry Yamin, penurunan pengunjung mal lebih karena jumlahnya sudah kebanyakan untuk perkembangan saat ini, dan strategi pengembang yang ketinggalan zaman dan tidak menyesuaikan dengan perkembangan zaman tersebut.

foto : gambarrumahweb.wordpress.com

foto : gambarrumahweb.wordpress.com

“Kalau kami melihat tren penurunan ini sudah dimulai sejak tahun 2010. Saat itu sudah ada 170 mal di Jakarta dengan luasan mencapai empat juta meter persegi (m2). Ini sudah melebihi batas ideal mal dan jumlah penduduk. Makanya sudah tepat kalau pemerintah mengeluarkan moratorium pembatasan pembangunan mal,” katanya melalui siaran pers di Jakarta, Rabu (20/9).

Di sisi lain saat suplai mal terlalu berlimpah, para pngembang justru terus mengembangkan mal baru, bukan memperkuat konsep mal yang sudah ada mengikuti perubahan zaman dan perilaku masyarakat seiring perkembangan teknologi informasi. Mereka terus menambah mal di Jakarta sehingga tahun 2013 sudah ada 564 pusat perbelanjaan di Jakarta dan terjadi pengelompokan mal di kawasan pusat bisnis atau central business district (CBD).

Para pengembang, jelasnya, mengabaikan tren pusat perbelanjaan dan mal di berbagai  megapolitan di negara lain. Di Amerika Serikat (AS) sejak tahun 2010 sejumlah mal raksasa mulai sepi, bahkan beberapa di antaranya tutup. Berdasarkan data lembaga pemantau industri pusat perbelanjaan di AS, Green Street Advisor, tahun 2010 ada 30 mal yang terpaksa tutup dan 60 mal lainnya mulai sepi pengunjung.

Jadi, sepinya mal bukan karena makin maraknya belanja online, tapi karena jumlahnya sudah terlalu banyak dengan konsep yang nyaris sama, di sisi lain ada perubahan lifestyle dari masyarakat yang mengharapkan segala sesuatu lebih praktis. Makanya cara belanja online berkembang pesat karena kepraktisannya, tapi bukan menjadi penyebab utama mal menjadi sepi.

“Di Indonesia itu mal sudah jadi bagian dari lifestyle, bahkan obat stres. Rata-rata orang Indonesia, apalagi perempuan, menghabiskan waktu di mal mencapai tiga jam sekali setiap kunjungan. Karena alasan kepraktisan inilah mal yang terintegrasi dengan hunian tetap ramai karena ada basis populasinya. Itulah yang membuat mal di kawasan-kawasan mixed use tetap ramai,” ujar Jeffry. Sudahkah konsep desain mal anda menyesuaikan diri dengan perubahan gaya hidup itu?

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me