Menuju Properti Hijau Cerdas

Big Banner

HousingEstate.com, Jakarta – Perkotaan di Indonesia terus berkembang dengan jumlah penduduk meningkat dari 49,8 persen (2010), 53,3 persen (2015) dan diperkirakan menjadi 56,7 persen tahun 2020 (BPS 2015). Urbanisasi, proses menjadi kota, sudah tidak bisa dihindari. Untuk itu pembangunan perkotaan harus direncanakan dengan matang untuk menghadapinya. Urbanisasi dapat menjadi peluang sebagai mesin pertumbuhan yang mengurangi kesenjangan sosial dan mendorong tanggung jawab sosial, mempromosikan keberlanjutan lingkungan hidup, dan meningkatan kesejahteraan.

Nirwono Joga, pengamat properti hijau dan Ketua Tim Penilai HousingEstate Green Property Awards

Nirwono Joga, pengamat properti hijau dan Ketua Tim Penilai HousingEstate Green Property Awards

Peningkatan urbanisasi di Indonesia menjadi tantangan bagi pemerintah untuk merencanakan dan merancang perkotaan dan metropolitan yang polisentris melalui pengembangan kota (satelit) baru, mandiri, dan kompak, didukung kawasan terpadu multifungsi dan transportasi massal. Pengembangan kota tidak hanya harus berkelanjutan, tetapi juga harus cerdas melayani masyarakat, serta mendukung fungsi kota sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi wilayah. Salah satunya dengan mewujudkan Properti Hijau Cerdas (PHC).

PHC dikembangkan untuk mencapai kehidupan permukiman layak huni, membangun pusat pertumbuhan ekonomi dan layanan mobilitas, melestarikan lingkungan hidup, didukung tata kelola dan komunitas masyarakat.

Pembangunan PHC berbasis wilayah pengembangan kawasan strategis, saling terhubung, saling mendukung, dalam membangun ketahanan pangan lokal, mengatasi banjir dan mengurai kemacetan lalu lintas, menyediakan perumahan murah dan layak huni, serta membuka lapangan kerja dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.

8+2 atribut

Pertama, pengembang menerapkan perencanaan dan perancangan berwawasan lingkungan. Semua tahu dan patuh terhadap perencanaan dan perancangan ramah lingkungan (bangunan dan lingkungan). Pengembang membangun kawasan/kota sesuai kapasitas daya dukung lingkungan. PHC dikembangkan menjadi kawasan percontohan yang menerapkan prinsip kota hijau secara utuh (kompak, terpadu) dan cerdas (sesuai kearifan lokal, potensi daerah). Pengembang didorong konsisten mengembangkan kawasan permukiman berbasis Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW), Rencana Detil Tata Ruang dan Peraturan Zonasi (RDTR-PZ), serta Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL).

Kedua, pengembang berkomitmen menyediakan RTH 30% dari luas kota/kawasan, dengan RTH Publik 20% dan RTH Privat 10%. Taman dan pepohonan besar di mana-mana. Taman dan jalur hijau membentuk jaringan infrastruktur hijau. PHC mempersiapkan ketahanan pangan lokal dengan mempertahankan dan melindungi lahan pertanian (sawah, kebun), menanam sayuran dan buah-buahan di taman rumah (taman pagar, dinding, atap), serta menanam pohon produktif di halaman rumah, kantor, taman, hingga jalur hijau.

Ketiga, warga dibiasakan berjalan kaki atau bersepeda ke tujuan yang dekat, dan terhubung dengan jaringan angkutan publik untuk keluar kawasan. PHC menyediakan trotoar ramah untuk semua (anak-anak, wanita hamil, disabilitas, lansia) dan infrasruktur sepeda aman dan nyaman (jalur, marka, rambu, parkir, bengkel, ruang ganti, tempat sewa). Transportasi publiknya terpadu berupa bus, kereta api, kereta ringan, andong/delman/dokar/ cidomo/becak.

Keempat, warga  mengurangi serta memilih dan memilah sampah sejak di rumah, memperbanyak bank sampah dan komposter di tingkat RT/RW, serta mengadakan kegiatan kreatif seperti bazaar sampah, tukar sampah dengan sembako, jual beli barang daur ulang, cek kesehatan (asuransi sampah). Sampah diolah dengan prinsip 3R+ (reduce, reuse, recycle, repair, dll). Lingkungan kawasan terlihat bersih, sampah terolah semua, sesedikit mungkin sampah yang tersisa, tidak bisa diolah, dan harus dibuang ke tempat pembuangan/pengolahan sampah terpadu.

Kelima, kawasan dirancang tanggap terhadap fenomena pemanasan global dengan melakukan antisipasi, adaptasi, dan mitigasi terhadap perubahan iklim. Pengembang menerapkan zero runoff, ekodrainase, 3R+ (reduce, reuse, recycle, recovery, recharge, dll). Warga mudah dan murah mengakses air bersih dan ada jaminan ketersediaan air bersih di musim kemarau. Tidak ada air yang terbuang, semua diserap ke tanah (sumur resapan, kolam penampung, danau, situ, dll). Kawasan membangun ketahanan air bersih dengan memanen air hujan di rumah, sekolah, jalan, dan taman lingkungan, menyediakan tandon di bawah area parkir (kelurahan, rumah sakit, rumah susun, pasar), membuat embung, serta memasang jaringan air minum dan mengurangi penggunaan pompa air.

Keenam, bangunan dan perumahan menerapkan persyaratan bangunan hijau. Hemat bijak lahan, instalasi hemat air, tidak ada yang terbuang. Hemat listrik dan terpenuhi kebutuhan, sirkulasi udara di rumah segar, mengalir lancar, dan pencahayaan memadai. Penggunaan material local, daur-ulang dan berarsitektur lokal. Tagihan dan penggunaan listrik (PLN) dan air (PDAM) rendah.

Ketujuh, PHC membangun kemandirian energi terbarukan dengan memanfaatkan potensi lokal berupa tenaga mikrohidro, biogas, surya, atau bayu. Warga beralih bertahap ke energi terbarukan, tagihan listrik turun, pasokan aman, dan terpenuhi kebutuhan energi dasar (penerangan, bahan bakar). Pengembang mewujudkan kawasan digital, melaksanakan layanan keuangan digital dan transaksi pembayaran secara elektronik, yang didukung jaringan infrastruktur listrik dan internet, perangkat teknologi memadai, dan tenaga lapangan yang andal.

Kedelapan, warga membangun semangat sukarela, gotong royong, peduli lingkungan, sosial budaya, dan peduli perkembangan kota. Muncul banyak komunitas seperti pramuka, karang taruna (teritorial), bike to school/work, pecinta alam (kategorial), serta terjalin komunikasi intensif antar-komunitas.

Kesembilan, pengembangan PHC menumbuhkan ekonomi yang lebih ramah lingkungan dan meningkatkan pendapatan asli daerah berkelanjutan. Pemerintah, pengembang, dan masyarakat memiliki keberpihakan pada produk lokal, labelisasi/sertifikasi produk hijau, insentif bisnis ramah lingkungan, proses produksi ramah lingkungan, dan penggunaan energi terbarukan.

Kesepuluh, PHC didukung pengembang ramah lingkungan, peraturan daerah dan sistem penganggaran yang prolingkungan, serta memberi teladan kepada masyarakat dalam menerapkan prinsip hidup hijau cerdas. Partisipatif, transparan, akuntabel, sinergis, dan berkelanjutan. PHC diharapkan mampu menggerakkan roda perekonomian, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan melestarikan lingkungan hidup.

Nirwono Joga, pengamat properti hijau dan Ketua Tim Penilai HousingEstate Green Property Awards

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me