Menpupera Pertanyakan Mal Besar di Perkotaan

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Rencana tata kota dan program pembiayaan perkotaan yang baik diperlukan untuk menjawab tantangan perubahan sosial yang hebat di perkotaan. Saat ini terjadi anomali dalam perkembangan perkotaan yang dipicu perkembangan teknologi. Salah satu yang menyolok adalah perubahan perilaku berbelanja dari konvensional ke online shop.   “Akibat dari belanja online ini mal menjadi sepi,” ujar Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menpupera) Basuki Hadimuljono dalam siaran pers yang diterima housing-estate.com di Jakarta, Selasa (31/10). Pernyataan Basuki itu dikemukakan dalam diskusi Kebijakan Hunian Layak dan Terjangkau di Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kemenpupera, sehari sebelumnya.

Basuki Hadimuljono, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menpupera)

Basuki Hadimuljono, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menpupera)

Saat ini permasalahan perkotaan terus berkembang khususnya yang terkait teknologi dan budaya masyarakat yang berubah sangat dinamis dengan kecepatan yang tidak bisa dibayangkan pada era sebelumnya. Maka dari itu perkembangan ini harus bisa diikuti dengan intellectual exercices yang terus menerus, tidak pernah berhenti, dari berbagai pihak yang berkepentingan.  Ia menyebutkan, diperlukan kejelian dalam menghadapi perubahan situasi dan kebijakan yang tepat. Terkait tren penurunan mal di perkotaan Basuki mempertanyakan apakah konsep mal besar masih diperlukan.

Menyinggung tantangan perkotaan lainnya yaitu urbanisasi hal itu harus dipandang sebagai mesin pertumbuhan (engine of growth) kawasan, bukan masalah. Arus penduduk ke perkotaan ini menjadi salah satu solusi mengatasi kesenjangan. Sejumlah kota sudah mengantisipasi dan merespon melalui pengelolaan yang cukup baik dan mendapat apresiasi internasional, misalnya Yogyakarta, Surabaya, Balikpapan, Pontianak, dan Semarang.

housing-estate.com