Tika Bisono: Apartemen Kecil Tidak Bisa untuk Keluarga

Big Banner

HousingEstate.com, Jakarta – Dorongan untuk tinggal di hunian vertikal atau apartemen terus menguat terkait makin mahalnya harga lahan di perkotaan. Tinggal di apartemen juga diharapkan lebih efisien dari sisi mobilitas karena lokasinya bisa lebih dekat dengan pusat-pusat kegiatan di sebuah kota.

Tika Bisono (dua dari kanan) saat peresmian Meikarduck di kota baru Meikarta (500 ha) Cikarang, Bekasi (Jawa Barat), Minggu (5/11/2017). (Foto: Yudiasis Iskandar/HousingEstate)

Tika Bisono (dua dari kanan) saat peresmian Meikarduck di kota baru Meikarta (500 ha) Cikarang, Bekasi (Jawa Barat), Minggu (5/11/2017). (Foto: Yudiasis Iskandar/HousingEstate)

Di sisi lain kebanyakan apartemen menawarkan unit berukuran kecil seperti tipe studio 20-25 m2 atau satu kamar untuk menekan harga jual. Menurut psikolog Tika Bisono, apartemen tipe studio tidak layak menjadi hunian sebuah keluarga.

“Hanya cocok untuk yang single atau pasangan yang belum punya anak. Terlalu banyak hal yang tidak bisa disediakan di unit studio bagi perkembangan sebuah keluarga,” katanya kepada housingestate.com di sela-sela peluncuran Giant Yellow Duck di kota baru Meikarta (500 ha), Cikarang, Bekasi (Jawa Barat), Minggu (5/11/2017).

Alumni Fakultas Psikologi UI yang juga penyanyi itu mencontohkan, dapur di unit apartemen studio umumnya berupa dapur kering (pantry) yang hanya bisa digunakan untuk memanaskan makanan. Padahal, rumah untuk sebuah keluarga butuh dapur yang memadai untuk mengolah berbagai pangan terkait kandungan gizi yang dibutuhkan seluruh penghuni termasuk anak-anak.

Pasangan yang sudah punya anak juga butuh ruang privat yang harus disekat. Belum bicara area untuk anak bermain, berlari, dan lain-lain kegiatan yang memaksimalkan perkembangan motorik dan fisiknya. Apartemen single tower dengan fasilitas seadanya disebutnya tidak mencukupi untuk mendukung perkembangan anak. Apalagi, si anak kemudian  tinggal di hunian berbentuk kubikal yang sangat sempit.

Untuk kasus seperti itu Tika menyarankan orang tua mengalah dengan memilih tinggal di rumah yang lokasinya jauh dari tempat kerja. Pembinaan keluarga membutuhkan ruang keluarga (living room) sebagai tempat berkumpul dan bercengkrama, serta mengembangkan nilai-nilai yang berbau pendidikan.

“Anak-anak itu harus bisa berlari, bermain sepeda, manjat pohon, jatuh, luka, dan semacam itu. Saya justru kasihan anak-anak sekarang nggak bisa mendapatkan itu, karena main dengan gadget dan terkungkung di apartemen. Kalau terpaksa banget, orang tuanya harus berpikir keras gimana caranya bisa pindah (ke rumah tapak). Misalnya, unit apartemennya pasti naik harganya. Itu bisa dijual untuk dibelikan rumah tapak atau tipe (unit apartemen) yang lebih luas,” jelasnya.

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me