Chairul Tanjung: Ritel Pada Tutup, Gue Buka 30 Gerai Transmart

Big Banner

HousingEstate.com, Jakarta – Mengenakan batik hitam kecoklatan, Chairman CT Corp Chairul Tanjung (55 tahun) dengan santai menjawab pertanyaan jurnalis dalam konferensi pers peluncuran sekaligus peletakan batu pertama (ground breaking) proyek terpadu (mixed use) Trans Park Juanda (5 ha) di Jl Juanda, Kota Bekasi, Jawa Barat, akhir pekan lalu. Proyek senilai Rep3 triliun itu menggabungakn lima menara apartemen (5.562 unit) dengan gedung perkantoran, hotel bintang tiga (200 kamar), Transmart Mall, kampus perguruan tinggi, water park dan Trans Studio Snow Town pertama di Indonesia.

Chairul Tanjung saat menjelaskan salah satu proyek properti CT Corp di Jalan Alternatif Cibubur, Cimanggis, Kota Depok (Jawa Barat), beberapa waktu lalu. (Foto: Dok. Susilo Waluyo/HousingEstate)

Chairul Tanjung saat menjelaskan salah satu proyek properti CT Corp di Jalan Alternatif Cibubur, Cimanggis, Kota Depok (Jawa Barat), beberapa waktu lalu. (Foto: Dok. Susilo Waluyo/HousingEstate)

Menurutnya, dalam situasi apapun, penting untuk selalu menemukan peluang, antara lain dengan menawarkan sesuatu yang berbeda. Karena itu saat banyak peritel menutup toko, ia justru akan membuka 30 gerai Transmart di berbagai kota di Indonesia hingga tahun 2018. “Konsep berbeda dan unik membuat kita bisa mendapatkan peluang dalam kondisi apapun,” katanya kepada housingestate.com. Salah satunya yang akan segera diresmikan adalah Transmart Pasaraya Blok M, Jakarta Selatan, menggantikan Matahari Department Store yang menutup gerainya September lalu.

“Itu yang membedakan gua dengan developer lain. Sejak krisis moneter 1998 begitu. Orang pada bengong, gua investasi,” ujarnya sembari menambahkan, bisnis ritel masih cukup prospektif. Buktinya, gerai Transmart rata-rata mencatat 6.000-12.000 transaksi per hari. Bahwa banyak gerai ritel ditutup belakangan ini, menurutnya, karena konsepnya tidak mengikuti perubahanr.

“Sekarang era baru bernama disruptive. Generasinya berubah. Tadinya belanja di toko, kini e-commerce. Tapi, nilainya masih kecil karena generasi milenial itu baru kerja dan gajinya masih UMR. Nanti, setelah 5–10 tahun baru mereka banyak duit karena sudah jadi supervisor dan manager. Itulah puncaknya (dan peluang bisnis besar bagi pengusaha yang menyiapkan perubahan sejak dini),” jelas alumni FKG UI itu.

Di Amerika dan China, lanjut Chairul, yang teknologinya lebih maju, yang belanja ke toko fisik (offline) masih mendominasi (80%). Hanya, konsep tokonya berbeda dengan dulu. “Kalau buka toko untuk jualan barang saja, ya nggak ada yang datang. Milenial itu juga cari tempat yang enak buat selfie. Kalau tempatnya tidak trendsetter, mereka nggak akan datang. Jadi disruptive itu bukan hanya terkait dengan (perkembangan) teknologi informasi, tapi juga perubahan perilaku pasar. Era berubah, demand dan lifestyle juga berubah,” paparnya,

CT Corp terus mengikuti perubahan itu. Di sektor properti misalnya, ia akan mengembangkan 10 proyek mixed use semacam Trans Park hingga akhir 2018. Lokasinya tersebar di Jabodetabek, Surabaya dan beberapa kota lain. Itu karena urbanisasi makin menderas dengan 55-60 persen penduduk akan berada di perkotaan tahun 2020–2030. Itu berarti kebutuhan besar terhadap tempat tinggal vertikal atau apartemen, karena tidak mungkin menyediakan rumah tapak bagi begitu banyak orang di perkotaan. Ia yakin dengan prospek proyek-proyek properti terpadu itu, karena begitu pembangunan berbagai infrastruktur transportasi di berbagai kota saat ini rampung total, bisnis properti otomatis akan terkerek naik.

“Sekarang karena belum selesai, ya berat. Kiri bangun LRT, kanan jalan tol layang, semrawut. Tapi, ini seperi pil pahit yang harus kita minum supaya lebih sehat di kemudian hari. Nanti orang nggak usah tinggal di Jakarta kalau semua infrastruktur transportasi itu sudah jadi,” tutur Chairul.

housing-estate.com