Hendra CEO LEADS Property; Menciptakan Alternatif CBD Baru

Big Banner

Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi November di rubrik Monitor menurunkan tulisan wawancara dengan Hendra Hartono CEO PT Leads Property Services Indonesia, tentang Alteratif Kawasan CBD Baru. Disebutkan bahwa hingga saat ini, Indonesia masih menjadi salah satu Negara tujuan prioritas investasi utama bagi para pengembang asing.

Ia yakin yakin bahwa investasi asing yang berkaitan dengan pengembangan properti juga merupakan salah satu kontributor utama terhadap penanaman modal asing yang masuk ke negara ini (di samping sumber daya alam pada umumnya), yang tentunya merupakan suatu motivasi bagi pemerintah untuk tetap mendukung aktifitas investasi ini.

Menurut survey Bain & Company South-East Asia, Kata Hartono kebanyakan para pengembang Indonesia masih tetap memilih untuk mengembangkan properti mereka di negara sendiri dibandingkan melakukan investasi pengembangan di luar negeri. Hal ini disebabkan karena Indonesia masih memiliki pangsa pasar yang besar, memiliki peluang yang lebih kompetitif, harga lahan yang masih terjangkau serta pengetahuan akan dinamika pasar lokal.

Trend yang bisa diamati lainnya adalah cukup banyak pengembang township (kota satelit) berskala besar di Jabodetabek yang mencoba menciptakan alternatif kawasan CBD di dalam township mereka. Berdasarkan pengamatan kami,masih ada “gap” untuk bisa diklasifikasikan sebagai kawasan CBD untuk para komunitas bisnis.

Menurut Hendra, ada dua faktor sukses utama dalam menciptakan kawasan CBD yang dapat menarik para komunitas bisnis, yaitu: Aksesibilitas dan fasilitas yang terintegrasi. Pengembang
township sering beranggapan bahwa dengan landscape yang menarik dan konsep penghijauan yang cukup, dapat memikat korporasi agar bisa pindah dan berkantor di kawasan CBD tersebut.

Namun, permasalahannya, untuk mencapai kawasan tersebut, mereka harus berjuang dengan tingkat kemacetan yang tinggi dan bahkan lebih parah dibandingkan kawasan CBD Jakarta serta masih terbatasnya transportasi publik yang memadai untuk para pengusaha.

Harga yang terjangkau. Pertama, harga sewa yang tidak terlalu berbeda dengan CBD Jakarta mengakibatkan sulitnya para korporasi untuk memutuskan pindah kantor ke pinggiran Jakarta.
Kedua, pengembang township perlu menargetkan perusahaan pemula (start-up) yang masih memerlukan biaya operasional yang rendah,agar dapat bertumbuh lebih besar dan pada akhirnya
membuat komunitas bisnis di dalam township.

Sementara trend lainnya adalah, seperti kita ketahui, kondisi sektor kondominium kelas menengah ke atas masih mengalami stagnasi, namun, akhir-akhir ini ada beberapa proyek yang ternyata cukup sukses dalam meluncurkan proyek-proyek kondominium mereka. Hal ini membuktikan bahwa konsumen masih memiliki daya beli yang cukup tinggi, tergantung pada produk dengan konsep yang tepat di lokasi yang baik.Tahun ini terbukti ada beberapa pengembang yang masih menunjukkan kinerja yang baik dan tetap berkembang dalam kondisi perlambatan ekonomi.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:

https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia

atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me