Industri Properti Lesu, Developer Pilih Akuisisi Proyek

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Industri properti yang masih lesu mendorong kalangan developer menerapkan strategi baru dalam menjalankan bisnisnya. Ada yang melakukan kerja sama operasi (KSO) atau melakukan akuisisi proyek. Yang terakhir itu menjadi alternatif ketimbang membuka proyek baru dari nol. Dalam situasi sekarang membuka proyek baru dinilai punya risiko tinggi, pembangunannya lebih lama dan mahal.

Tampak depan banguanan apartemen East Point di kawasan superblok Sentra Timur, Pulo Gebang, Cakung, Jakarta Timur. Foto: Dok. eastpointapartment.com

Tampak depan banguanan apartemen East Point di kawasan superblok Sentra Timur, Pulo Gebang, Cakung, Jakarta Timur. Foto: Dok. eastpointapartment.com

Salah satu pengembang yang memilih strategi akuisisi adalah PT Tridaya Mandiri. Belum lama terjun ke bisnis properti perusahaan dengan core business pertambangan dan perminyakan ini mengakuisisi apartemen East Point yang dikembangkan Primaland di Pulogebang, Jakarta Timur, senilai Rp110 miliar. Pengambilalihan proyek di kawasan superblok Sentra Timur Residence itu dilakukan dua tahun lalu. “Kita melihat ada peluang untuk menggarap proyek yang hampir jadi tapi macet karena lemah di pemasaran dan cash flow,” ujar Amin Maulana, Direktur East Point, kepada housing-estate.com di Jakarta, Sabtu (11/11).

Presiden Direktur PT Tridaya Mandiri Agustinus Batubara menjelaskan, akuisisi proyek yang terhenti cukup lama itu pertimbangannya cukup matang. Ia melihat lokasi proyek itu strategis dekat gerbang tol Pulogebang di ruas tol JORR Cikunir-Cakung. Selain itu perizinannya sudah selesai semua sehingga tinggal meneruskan sisa penjualan dan pengembangan fisik.

Menurutnya, harga lahan di kawasan Jakarta Timur cukup kompetitif sehingga pemasarannya relatif lebih mudah. Selain itu pengembangan Jakarta mau tidak mau ke timur karena lahannya tersedia dan infrastrukturnya terus dibenahi.  “Kami optimis dengan proyek ini, apalagi suplai apartemen di Jakarta Timur masih sedikit dibanding wilayah pinggiran Jakarta seperti Bekasi, Serpong, Bogor dan Depok,” jelasnya.

Di tangan developer baru proyek apartemen setinggi 16 lantai ini diubah dari rusunami (rumah susun sederhana milik) untuk masyarakat berpenghasilan rendah menjadi apartemen menengah. Agustinus menyebutkan biaya konstruksi proyek ini sekarang naik berlipat dibanding awal dibangun lebih dari lima tahun lalu. Dulu biayanya konstruksinya sekitar Rp2 juta/m2, sekarang Rp5 jutaan/m2.

Targetnya akhir November 2017 ini pembangunannya sudah selesai yang diikuti dengan serah terima 201 unit di lantai satu hinggatujuh. Serah-terimanya bertahap karena unit di lantai lain dalam tahap finishing.  Dari 368 unit yang dipasarkan 60 persen di antaranya sudah terjual. Harganya mulai Rp400 jutaan (tipe studio 28 m2), tiga kali lipat lebih mahal dari harga perdana Rp144 juta/unit (2008). Agus menyebutkan dalam waktu dekat pihaknya akan mengakuisisi proyek apartemen kawasan pusat bisnis Jl Jendral Sudirman, Jakarta, dan Bandung, Jawa Barat.

housing-estate.com