Percaya Deh, Beli Rumah Sekarang Jauh Lebih Mudah

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Berbagai survei menyebutkan, kaum muda yang lahir awal tahun 1980 sampai tahun 90-an kurang tertarik untuk membeli rumah, tapi lebih memilih menggunakan uangnya yang masih terbatas itu untuk membiayai gaya hidup seperti liburan, gadget dan lain-lain.

Perumahan sederhana | Foto : dok. Majalah Housing Estate

Perumahan sederhana | Foto : dok. Majalah Housing Estate

Apalagi, mereka merasa pilihan rumah yang cocok untuk mereka sudah terlalu jauh dari tempat mereka bekerja. Karena itu mereka lebih memilih menyewa rumah di dalam kota atau tetap tinggal bersama orang tua, tidak mempersiapkan diri membeli rumah sendiri.

Padahal, membeli rumah sekarang jauh lebih mudah murah. Untuk itu kita bisa berkaca pada pengalaman generasi sebelumnya yang saat ini berusia 40-50 tahunan. Bambang (43 tahun), manajer sebuah perusahaan swasta di Jakarta misalnya, menyatakan, membeli rumah sekarang lebih mudah karena lebih banyak pilihan dan bunga kreditnya rendah.

“Saya beli rumah tahun 1998 saat krisis moneter. Waktu itu bunga bank mana ada yang rendah sampai single digit seperti sekarang. Saya dikenakan bunga KPR (kredit pemilikan rumah) hampir 20 persen. Waktu itu rasanya dapat bunga KPR 15 persen saja sudah rendah. Makanya menurut saya, sekarang malah lebih enak (beli rumah) karena bunganya rendah dan lebih stabil,” tuturnya kepada housing-estate.com di Jakarta, Senin (13/11).

Bambang membeli rumah di Vila Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Banten), salah satu kota satelit Jakarta. Tipe rumahnya 45/80 seharga Rp65 juta. Ia membayar uang muka Rp25 juta, sisanya Rp40 juta dilunasi dengan KPR. Cicilan KPR-nya Rp1,3 juta/bulan dengan tenor kredit lima tahun.

Ia merasakan betul sulitnya menyiapkan depe rumah itu dan membayar cicilan rumah setiap bulan. Namun, dengan tekad ingin memiliki rumah sendiri, akhirnya semua bisa diwujudkan. Setelah sekian lama, cicilan rumah terasa lebih ringan karena penghasilannya juga meningkat.

Cerita lain dari Susi Wijayanti yang bekerja sebagai editor di sebuah media nasional di Jakarta. Ia membeli rumah di Permata Depok, Kota Depok (Jawa Barat), kota satelit Jakarta yang lain, tahun 2005 saat situasi ekonomi sudah lebih baik walaupun masih merasakan bunga KPR yang cukup tinggi. Rumahnya tipe 38/105 seharga Rp150 juta.

“Waktu itu saya harus menyediakan uang muka Rp25 juta, sisa pakai KPR dengan cicilan Rp1,9–2 juta per bulan selama 10 tahun. Terakhir menjelang lunas bunga KPR yang dikenakan 12,5 persen. Waktu itu rasanya cukup besar, tapi nggak terasa tahu-tahu kreditnya sudah lunas. Sekarang sih harusnya lebih mudah (membeli rumah), karena penawarannya lebih beragam walaupun mungkin yang sesuai dengan penghasilan lokasinya jauh. Tapi, itu nanti nggak bakal terasa,” jelasnya.

Ia menyebutkan, rumah seken di Permata Depok di Jalan Raya Depok-Citayam itu, tipe standar 38/72 yang sudah direnovasi sekarang dipasarkan Rp400 jutaan atau Rp500 juta kalau sudah full direnovasi. Artinya, kalau kita menunda membeli rumah, harganya akan makin tidak terkejar lagi karena kenaikannya pasti di atas rata-rata kenaikan gaji orang kebanyakan.

Karena itu membeli rumah seharusnya diprioritaskan saat pertama kali kita bekerja. Untuk meringankan cicilan, kita bisa memanfaatkan berbagai promo bunga ringan, depe bisa diangsur, atau fasilitas subsidi perumahan dari pemerintah bagi pekerja formal yang bergaji maksimal Rp4 jutaan untuk pembelian rumah tapak atau maksimal Rp7 juta untuk apartemen. Intinya, tidak ada alasan menunda membeli rumah, karena sekarang jalannya lebih mudah dan murah.

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me