Ayo! Pilah Dulu Sampahnya, Baru Dibuang

Big Banner

HousingEstate.com, Jakarta – Sampah adalah salah satu persoalan berat di negeri ini. Bukan hanya belum semua tertangani dengan baik, budaya nyampah kita juga seperti sukar distop. Sampah dibuang suka-suka di mana saja: jalan, selokan, sungai, danau, lautan, hutan, gunung, dan seterusnya. Sangat merusak lingkungan.

bank-sampah-depok

Padahal, sampah tidak harus dibuang. Sebagian besar bisa diolah. Untuk itu sampah  dipilah sejak di rumah. Jadi, yang dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA) hanya sedikit. Soal bagaimana mengelola sampah itu, sudah ada aturan rincinya dalam UU No. 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah dan PP No. 81/2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga, diikuti berbagai aturan di bawahnya.

“Yang belum penegakan hukumnya. Mestinya begitu ada aturan, pemerintah mulai mengedukasi masyarakat sambil menegakkan aturan. Karena tidak dijalankan, masyarakat susah berubah,” kata M Bijaksana Junerosano (Sano), Managing Director Waste 4 Change (W4C), perusahaan pengelola dan manajemen sampah di Bekasi, Jawa Barat, kepada housingestate.com beberapa waktu lalu.

Menurut pria kelahiran Banyuwangi, 3 Juni 1981 ini, ada lima aspek manajemen persampahan supaya kita bisa mengelola sampah dengan baik: penegakan aturan, kelembagaan yang menjalankan, pembiayaan, teknis operasional, dan partisipasi semua pihak. “Semuanya ibarat gear mesin yang hanya bisa berputar kalau semuanya bekerja. Sampah yang terkelola bukan hanya membuat lingkungan terjaga, tapi juga menciptakan perputaran ekonomi,” jelasnya.

“Untuk tahap awal, setiap rumah setidaknya memilah sampahnya menjadi dua. Sampah yang mudah busuk seperti sisa makanan, dedaunan, dan bahan organik lain dikumpulkan dalam satu wadah tertutup. Sampah organik ini saja dulu yang dipilah, sisanya terserah,” jelasnya. Untuk yang lebih advance, kita bisa memilah sampah menjadi organik, sampah kertas, plastik, kaca, botol, dan lain-lain yang bisa didaur ulang.

Pola pikirnya, setiap barang yang bisa diambil pemulung, harus dipisahkan karena itu berarti masih bernilai. Bahkan, menurut UU Sampah, sampah terbagi dalam lima kategori: organik, yang bisa dipakai ulang, yang bisa didaur ulang, sampah B3, dan sampah lain. Jadi, tidak bisa rumah yang merasa sudah membayar iuran, lalu membuang sampah tanpa dipilah dulu.

Selama ini pola pikirnya, sampah dibuang alias dipindahkan ke tempat lain. Rumah dan lingkungan kita bersih, tempat lain kotor. W4C yang mengelola sampah dari berbagai gedung dan perumahan, salah satunya Vida Bekasi (130 ha), Jl Raya Siliwangi, Narogong, Bekasi (Jawa Barat), merasaknnya. “Selama dua tahun mengelola sampah di Vida Bekasi, baru 40 persen penghuni yang tertib memilah sampah, yang lain nggak perduli,” ujar Sano.

Pengembang perumahan juga malas berkonflik dengan penghuni. Karena itu back up pemerintah sangat perlu. Pemerintah juga harus menentukan standar biaya pengelolaan sampah yang benar. Berapa idealnya setiap kilogram sampah dihargai untuk dikelola pihak lain. Penentuan biaya berbasis volume sehingga adil. Ia menyarankan berdasarkan ukuran kantong sampah (kecil, sedang, besar), karena kalau ditimbang tentu merepotkan.

“Selama ini banyak yang malas membayar karena tidak ada penegakan hukum. Wong, sampah bisa dibuang gratis, kenapa harus membayar? Di Jepang satu unit apartemen tidak memilah sampah, seluruh penghuninya terkena hukuman. Kalau hukum ditegakkan seperti itu, sesama warga akan saling menjaga,” urai Sano.

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me