Bisnis Properti Harus Berubah

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Indonesia Economic Forum mengadakan Forum Properti pertama di Indonesia (Indonesia Property Forum/IPF 2017) di Jakarta, Kamis (30/11/2017). IPF ditujukan untuk para pebisnis dan praktisi properti guna mengantisipasi tren dan peluang dalam bisnis di Indonesia di masa mendatang.

Ki-ka: Shoeb Kagda (Founder Indonesia Economic Forum), Po Soen Kok (Chariman Pollux Properties), Sofyan Djalil (Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional RI), Mochtar Riady (Founder & Chairman Lippo Group), SD Darmono (Founder & Chairman Jababeka Group), Satchin Gopalan (Co-Founder Indonesia Property Forum) berfoto bersama saat pembukaan Indonesia Property Forum 2017 di Jakarta, Kamis (30/11/2017).

Ki-ka: Shoeb Kagda (Founder Indonesia Economic Forum), Po Soen Kok (Chariman Pollux Properties), Sofyan Djalil (Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional RI), Mochtar Riady (Founder & Chairman Lippo Group), SD Darmono (Founder & Chairman Jababeka Group), Satchin Gopalan (Co-Founder Indonesia Property Forum) berfoto bersama saat pembukaan Indonesia Property Forum 2017 di Jakarta, Kamis (30/11/2017).

Karena itu forum menghadirkan banyak pembicara top seperti Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil, Chairman Lippo Group Mochtar Riady, Chairman Jababeka Group SD Dharmono, Chairman Pollux Properties Po Sun Kok, Chief Executive Officer (CEO) Bakrie Group Anindya Novyan Bakrie, dan sejumlah pemimpin bisnis ternama lain baik dari dalam maupun luar negeri.

Salah satu yang menjadi fokus pembicaraan di IPF, menurut Co-founder Indonesia Economic Forum Sachin Gopalan, adalah berbagai perubahan yang terjadi di hampir semua sektor menyusul perkembangan pesat teknologi informasi.

Menurutnya, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia secara rata-rata dinilai masih rendah, berbagai proyek properti terus diluncurkan. Pembangunan infrastruktur yang massif yang dilakukan pemerintah Indonesia sangat mendukung pengembangan proyek-proyek properti itu. “Namun, dalam 10 tahun ke depan peluang dan tantangan bisnis properti akan berubah. Pertanyaannya, apakah bisnis properti Anda masih layak? Persoalan serius akan timbul pada bisnis anda bila anda salah memahami berbagai perubahan yang masih sulit dirumuskan itu, sehingga berdampak terhadap keputusan yang anda ambil,” katanya.

Shoeb Kagda, founder Indonesia Economic Forum, menambahkan, pergeseran demografis juga akan berdampak besar terhadap bisnis properti di masa depan. Juga urbanisasi yang kian cepat, cluster living, meningkatnya jumlah kelas menengah dan bangkitnya bisnis-bisnis baru yang memanfaatkan teknologi digital. “Semuanya harus dipahami dan direspon supaya bisnis properti tetap tumbuh,” ujarnya.

Sementara itu Mochtar Riady menyatakan, bisnis properti merupakan lokomotif ekonomi bersama pembangunan infrastruktur dan industri berdampak besar seperti otomotif. Hal itu sudah terbukti di banyak negara, termasuk China. “China tahun 80 sampai awal 90-an masih miskin dengan cadangan devisa hanya ratusan juta dolar. Tapi, sejak tahun 95 ke sini China berkembang sangat pesat menjadi seperti sekarang dengan cadangan devisa ribuan miliar dolar. Itu karena properti, infrastruktur, dan (industri) otomotif,” katanya.

Para pembicara yang umumnya sudah berusia tua belum mampu menawarkan gagasan baru, apalagi menyampaikan pendapat yang jelas dan tegas mengenai bagaimana seharusnya bisnis properti merespon berbagai perubahan cepat yang terjadi di masyarakat dan pasar dalam satu dekade terakhir. Yang sudah jelas: bisnis properti harus terus menerus menyesuaikan diri supaya tetap bisa melayani pasar dengan baik dan tumbuh.

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me