Tahun 2018 Saat Tepat Melansir Proyek Baru

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Para pengembang tidak bisa terus bersikap wait and see (menahan diri) menghadapi situasi pasar yang sulit dalam 3–4 tahun terakhir. Mereka harus berani membuat terobosan yang mampu mengangkat kembali bisnis mereka. Dan, terobosan berupa peluncuran proyek baru yang sesuai dengan kebutuhan pasar itu harus dilakukan tahun ini (2018).

property outlook 2018

“Kalau menunggu tahun 2019 (saat pemilu anggota DPR dan presiden), situasinya mungkin sudah panas, politik lebih bergejolak, dan semua benar-benar menahan diri. Kalau tahun 2018 baru pilkada (serentak), situasinya masih hangat,” kata Yosi Hidayat Prabowo, Direktur Marketing Anugerah Sejahtera Group, dalam diskusi Property Outlook 2018 “Strategi Industri Properti Memanfaatkan Tumbuhnya Infrastruktur” yang diadakan PT Agung Podomoro Land Tbk (APL) di Jakarta, Selasa (5/12/2017).

Ia berbicara bersama Agung Wirajaya, Assistant Vice President, Head of Strategic Residential Marketing Division APL. Anugerah Sejahtera Group adalah perusahaan yang banyak menangani pemasaran proyek-proyek properti untuk kalangan menengah ke atas di berbagai kota sejak satu dekade terakhir.

Ia mengakui, situasinya sulit dan sama-sama berisiko bagi developer. Menahan diri, bisnis makin mandek. Melansir proyek baru juga belum tentu disambut pasar. Tapi, ketimbang menahan diri, ia berpendapat lebih baik membuat terobosan dengan meluncurkan proyek baru atau melakukan improvisasi produk.

Alasannya, akhir Oktober 2019 saat pemerintahan baru terbentuk, sebagian infrastruktur yang dibangun pemerintahan saat ini sudah beroperasi. “Saat itu harga properti sudah naik dan sudah terlambat melansir proyek baru,” ujarnya.

Selain itu dunia juga berubah cepat dengan pasar makin dipenuhi kaum milenial yang penghasilannya masih terbatas, teknologi digital makin menguasai semua sendi kehidupan dan bisnis, dan ketidakpastian makin tinggi. Tanpa terobosan, sulit melayani pasar tersebut.

Berkaitan dengan itu, kemampuan dan kejelian pengembang memahami pasar dan menawarkan proyek yang tepat sangat menentukan keberhasilan. Ia mencontohkan Podomoro Park (100 ha), proyek perumahan baru untuk kaum menengah atas yang dilansir APL di kawasan Buah Batu, Bandung Selatan, Jawa Barat, tidak jauh dari gerbang tol Buah Batu di jalan tol Purbaleunyi.

Saat ini pengembangan real estate di Bandung mengarah ke timur di koridor Soekarno-Hatta, Gede Bage, Ujung Berung, Cibiru, sampai kawasan kampus perguruan tinggi di Jatinangor. Salah satu proyek besarnya adalah Summarecon Bandung (300 ha) dan rencana kota baru Wika Realty. Setelah itu mungkin melebar ke Bandung Barat dengan salah satu proyek besar eksistingnya Kota Baru Parahyangan (1.250 ha).

“Tapi, Agung Podomoro tidak ikut masuk ke area itu tapi di Bandung Selatan. Ini contoh strategi bisnis yang jeli karena memilih bermain di blue ocean (pasar tanpa atau minim persaingan), tidak nyemplung di red ocean (yang sudah dipenuhi pemain) yang sudah berdarah-darah (persaingannya) seperti di Bandung Timur dan Barat,” kata Yosi. Di Bandung Selatan selama ini belum ada proyek real estate berkelas untuk kalangan menengah atas.

Contoh lain, Perum Perumnas, Wika dan PP berkolaborasi dengan PT Kereta Api Indonesia mengembangkan apartemen murah dengan konsep transit oriented development (TOD) atau terintegrasi dengan transportasi massal di jalur kereta komuter Jabodetabek, karena tahu properti di jalur kereta ringan atau light rail transit (LRT) dikuasai BUMN lain.

Sementara Lippo Group menyasar segala segmen dengan promosi besar-besaran di berbagai media dan lokasi melalui proyek kota baru Meikarta. Kualitas yang bagus dengan harga terjangkau menjadi strateginya. “Orang bisa beli apartemen bagus di Meikarta seharga Rp127 jutaan,” katanya. Hal yang mirip sudah lebih dulu dilakukan APL melalui proyek superblok Podomoro Golf View (60 ha) di Cimanggis di lintasan LRT Cibubur–Bogor dengan menawarkan apartemen seharga mulai dari Rp198 juta.

“Harga yang ditawarkan developer itu sangat wow. Sebelumnya sulit membayangkan developer masih bisa menawarkan harga segitu, karena harga patokan apartemen bersubsidi lima tahun lalu saja sudah Rp144 juta,” kata Yosi.

housing-estate.com