Outlook Bisnis Properti 2018; Apartemen Relatif Stabil

Big Banner

Majalah Poroperti Indonesia (MPI) edisi Desember 2017 Meski banyak tekanan, pengembang terus berharap positif terhadap sentimen pasar dan investasi, seiring proyek-proyek baru yang masih diluncurkan sepanjang tahun 2017.

Penambahan proyek baru ini secara teori dikarenakan pertumbuhan jumlah penduduk yang pesat ditambah keterbatasan lahan yang tersedia di Jakarta, sehingga mendorong semua perkembangan ke arah hunian vertikal.

Di tahun 2017, segmen pasar kondominium kelas menengah ke bawah (dibawah Rp 22 juta per meter persegi) adalah segmen yang berkembang dengan lokasi penyebaran di wilayah penyangga Jakarta seperti Tangerang, Bekasi, Depok dan Bogor. Sementara wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Barat, merupakan pengembangan kelas menengah ke atas (diatas Rp 22 juta per meter persegi).

Hingga kuartal III-2017, penjualan apartemen di Jakarta tergolong lesu. Padahal suplai apartemen setiap harinya meningkat. Lesunya penjualan apartemen dikarenakan pasokan yang terlalu banyak dengan jarak waktu yang sangat berdekatan, sehingga konsentrasi untuk masyarakat membeli terpecah.
Proyeksi 2018:

Supply sektor apartemen di tahun 2018 akan mencapai 260 ribu unit atau meningkat sebesar 6% per tahun. Sedangkan tingkat penyerapan (take-up rate) akan menyentuh angka 88%, dimana persentase ini relatif stabil dibandingkan tahun 2017, yang hanya sebesar 87.8%. Sama seperti tahun sebelumnya, sektor ini masih akan didominasi oleh sektor menengah dan menengah bawah, dimana kedua sektor ini akan mendominasi pasar residensial sebesar 75%. Sisanya akan dikontribusikan oleh segmen menengah atas dan atas, sebanyak 24% dan sektor mewah sebanyak 1%.

Segmen mewah masih relatif stagnan dibandingkan segmen lainnya, khususnya dalam hal pengembangan proyek dan pertumbuhan harga. Selain oleh karena harga yang terlampau mahal dan pajak barang mewah yang dikenakan pemerintah, juga masih terbatasnya peraturan kepemilikan asing yang memiliki daya beli yang cukup tinggi.

Harga pasar residensial di Jakarta akan bertumbuh secara lambat sebesar 3-4% per tahun dari tahun 2017 sehingga mencapai Rp 24,800,000 / meter persegi secara rata- rata. Diperkirakan, harga di pasar sekunder akan terus menekan harga di pasar primer (harga dari pengembang) dikarenakan para investor menganggap harga properti sudah tidak akan naik lagi dan waktunya untuk meraup keuntungan dari capital gain.

Walaupun kondisi sektor residensial melambat, namun ada beberapa proyek residensial menengah atas yang justru sukses dalam hal penjualan produk-produk mereka. Hal ini membuktikan masih adanya buying power yang kuat, tergantung pada produk dan strategi pemasaran yang tepat di lokasi yang strategis. Diperkirakan akan ada gap harga jual dan harga sewa antara apartemen yang berdekatan dan yang jauh dari stasiun MRT dan LRT.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:

https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia

atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com