Mau Untung Investasi Apartemen? Perhatikan Hal Ini

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Apartemen menjadi salah satu pilihan investasi yang digemari pemilik kapital. Mereka melirik properti  (apartemen, rumah, ruko, tanah) karena aman, wujudnya riel dan harganya dipercaya tidak pernah jatuh. Paling jelek harganya stagnan.  Sebenarnya berinvestasi properti tidak sesederhana itu, apalagi saat kondisi pasar sedang terpuruk seperti sekarang.

apartemen sudirman

Tidak jarang kenaikan harganya hanya di atas kertas karena secara reguler developernya memperbaruhi harga. Misalnya, naik 3-4% per tiga bulan sehingga dalam satu tahun harganya naik 12-16%. Tapi transaksi di pasar seken yang merupakan real market harganya belum tentu sama dengan harga developer itu.

Harga terbentuk mengikuti kondisi penawaran dan permintaan (supply & demand). Karena penawarannya jauh di atas permintaan seperti yang sekarang banyak terjadi di pusat-pusat pertumbuhan baru di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek), harganya menjadi tertekan. Ada apartemen di barat Jakarta yang harganya Rp1 miliar, setelah beroperasi di pasar seken penawarannya hanya Rp800 juta.

Menurut Sofyan Ramdan, pakar risk management yang banyak menginvestasikan dananya di properti, itu keputusan investasi properti yang tidak tepat. Mantan bankir itu  masih percaya harga properti akan terus naik asalkan pilihan lokasinya tepat. “Membeli apartemen sebaiknya di lokasi yang suplainya tidak banyak. Kalau pasokannya berlebihan, menjualnya sulit, disewakan juga susah,” kata Sofyan kepada housing-estate.com di Jakarta, Rabu (6/12).

Kondisinya tidak terlalu buruk seandainya pembelinya mayoritas enduser yang akan menempati sendiri apartemennya. Tapi yang terjadi sebaliknya. Sebagian besar pembelinya investor yang akan menjual lagi propertinya. Karena itu Sofyan tidak pernah mau membeli properti di kawasan suburban (pinggiran). Semua aset propertinya  berada di pusat bisnis atau dekat kawasan itu.

Ia misalnya, membeli apartemen dan ruang perkantoran strata title di kawasan SCBD, Jalan Jend Sudirman, Jakarta. Satu tahun lalu ia juga membeli apartemen di Jl Raya Ampera, Kemang, Jakarta Selatan, karena lokasinya dekat dengan koridor bisnis Jl TB Simatupang-RA Kartini. Rumah tinggalnya di Kemang yang dibeli tujuh tahun lalu diklaim nilainya naik berlipat-lipat. “Kalau saya beli apartemen di pinggiran Jakarta siapa yang mau nyewa? Kalau di pusat bisnis menyewakannya mudah dan harganya bagus,” katanya.

Dalam berivestasi apartemen kenaikan harga hanya bonus, bukan pertimbangan utama.  Yang utama adalah pendapatan sewa (yield). Kalau harga sewanya bagus otomatis pertumbuhan harganya juga bagus.

Ia tidak menampik sewa apartemen dekat kawasan industri di timur Jakarta saat ini harganya cukup tinggi. Tipe dua kamar sewanya berkisar 2.500 dolar AS per bulan, sama dengan tarif sewa apartemen di CBD Jakarta.

Fenomena ini yang ikut memicu konsumen berburu apartemen di kawasan itu. Puluhan bahkan ratusan ribu unit konon sudah terjual. Sofyan mempertanyakan, kalau nanti ratusan menara apartemen itu selesai dibangun, siapa yang akan menyerapnya mengingat  pembelinya didominasi investor?

housing-estate.com