Apartemen di Jalur Transportasi Massal itu Bintang Lima

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Hunian di jalur transportasi massal seperti mass rapid transit (MRT), light rail transit (LRT), dan kereta komuter merupakan properti yang hot dan sexy dewasa ini. Pasalnya, kota makin padat, kemacetan lalu lintasnya makin luar biasa, dan kondisi moda transportasi massal itu makin bagus.

apartemen transit oriented development

“Pendeknya (sekarang hunian seperti) apartemen di jalur transportasi massal itu bintang lima. Nanti setelah semua transportasi massal itu jadi, harganya akan melambung,” kata Yosi Hidayat Prabowo, Direktur Marketing Anugerah Sejahtera Group, dalam sebuah diskusi di Jakarta pekan lalu. Anugerah Sejahtera Group adalah perusahaan yang banyak menangani pemasaran proyek-proyek properti untuk pasar menengah atas di berbagai kota sejak satu dekade terakhir.

Apalagi, lanjutnya, banyak apartemen di jalur transportasi massal itu yang dipasarkan dengan harga sangat terjangkau, seperti apartemen dengan konsep transit oriented development (TOD) yang terintegrasi dengan kereta komuter Jabodetabek yang dikembangkan Perumnas dan BUMN lain bersama PT Kereta Api, apartemen di jalur LRT (LRT City) yang dikembangkan Adhi Karya di jalur LRT Jabodetabek, serta sejumlah proyek apartemen swasta seperti Podomoro Golf View (60 ha) di Cimanggis, Kota Depok (Jawa Barat) di jalur LRT Cibubur–Bogor, kota baru Meikarta (500 ha) di Cikarang, Bekasi (Jawa Barat) di jalur tol Jakarta–Cikampek, dan lain-lain.

“Bayangkan, Meikarta menjual apartemen tipe studio hanya Rp127 jutaan, Podomoro Golf View Rp198 jutaan, apartemen TOD Rp200–300 jutaan. Sebelumnya sulit membayangkan saat ini masih ada pengembang yang bisa menjual apartemen seharga itu, karena harga patokan apartemen bersubsidi lima tahun lalu saja sudah Rp144 juta. Di Singapura apartemen di jalur transportasi massal itu mahal banget,” tuturnya.

Karena strategisnya hunian di jalur transportasi massal itu sekarang, dari lima T faktor yang menentukan keberhasilan pengembangan sebuah proyek, dua di antaranya berkaitan dengan transportasi. Yaitu, traffic (volume lalu lintas) dan transportation (akses transportasi) selain trust (kepercayaan, reputasi), time (momentum melansir proyek atau produk yang tepat), dan treasury (kemampuan keuangan).

Karena itu Yosi sangat menyarankan, yang sudah mampu mencicil, atau bisa menyediakan uang muka, atau punya uang tunai, dan butuh rumah, segera membeli apartemen di jalur trasnportasi massal itu sekarang.

Apalagi, pengembang yang haus likuiditas banyak menawarkan promo yang sangat meringankan cara pembayarannya, seperti subsidi bunga kredit pemilikan apartemen (KPA), diskon harga, uang muka sangat ringan, tunai bertahap panjang tanpa depe dan bunga, sampai uang muka bisa dicicil panjang. Jadi, yang belum punya dana untuk membayar uang muka pun bisa membeli apartemen-apartemen itu.

“Sekarang cash is king. Jadi, kalau sudah mampu mencicil atau membayar uang muka, segera beli. Kalau nanti setelah transportasi massalnya sudah jadi tahun 2019 saat terbentuknya pemerintahan baru, baru beli, harga rumah atau apartemennya sudah tinggi,” kata Yosi.

housing-estate.com