Kendati Macet, Cibubur Masih Jadi Primadona Pengembang (1)

Big Banner

Majalah Properti Indonesia edisi Desember 2017 menurunkan ulasan tentang pertumbuhan kawasan Cibubur. Wilayah ini dianggap masih menjadi primadona bagi sejumlah pengembang tak terkuali pengembang besar.

Kawasan Cibubur merupakan daerah potensial bagi investasi properti, khususnya pengembangan kelas menengah dan menengah atas. Selain didukung kelengkapan fasilitas, citra Cibubur sebagai kawasan elit membuat kawasan ini semakin diburu. Di sapng hunian termasuk pengembangan area komersial dan pusat bisnis pun kian pesat.

Dari segi geografis, kawasan Cibubur masih tergolong hijau dengan udara dan hawa yang sejuk. Terdapat danau dan hutan kota sekaligus aset negara yang difungsikan sebagai fasilitas publik, yakni Taman Bunga Wiladatika dan Bumi Perkemahan Pramuka. Selain itu, kawasan ini juga dilewati oleh jalan tol Jagorawi. Itulah sekelumit kelebihan kawasan Cibubur.

Associate Director Knight Frank Indonesia, Hasan Pamudji, mengungkapkan, bahwa pertumbuhan kawasan Cibubur tak terlepas dengan dekatnya dengan pusat Ibu Kota. “Cibubur menarik karena kedekatan dengan pusat kota Jakarta. Selain itu, dibanding daerah penyangga lain, Cibubur masih relatif lebih baik karena kontur tanah berbukit, suasana masih asri dan sejuk, sehingga cocok untuk hunian,” papar Hasan.

Salah satu area yang pertumbuhannya cukup signifikan adalah koridor jalan Alternatif Cibubur (Jalan Transyogi). Jalur alternatif yang menghubungkan Cibubur menuju ke Bekasi, Cianjur, maupun Bandung ini terus bersalin rupa. Tengok saja, di kiri dan kanan jalan nampak berbagai fasilitas umum, pusat kuliner, dan sarana hiburan. Dalam radius tak kurang dari 10 kilometer, terdapat setidaknya 7 areal komersial mulai Cibubur Junction, Cibubur Point, Ruko Kranggan Permai, Plaza Cibubur, Mal Ciputra Cibubur, Cileungsi Trade Mall, hingga Metropolitan Mall Cileungsi.

Semua fasilitas itu tak pelak lagi adalah respon dari semakin berkembangnya kawasan Cibubur yang dipicu oleh koridor jalan Transyogi ini. Di jalur ini sekurangnya terdapat perumahan skala menengah dan besar sebut saja Raffles Hill, Legenda Wisata, Citra Gran, Taman Laguna, Legenda Wisata, dan Kota Wisata. Ini belum termasuk puluhan titik perumahan yang berkembang di belakang koridor jalan utama ini.

Semakin tingginya penetrasi pengembang membangun properti pada suatu kawasan membawa konsekuensi logis, salah satunya adalah kemacetan lalu lintas. Kondisi ini terasa sekali pada jam-jam berangkat dan pulang kantor. Betapa tidak, jalur Jonggol-Cibubur sepanjang 20 kilometer harus ditempuh dalam kurun waktu tiga jam. Itu terjadi pada hari Senin sampai Jumat. Kondisi tersebut bertambah parah ketika memasuki akhir pekan yang bisa ditempuh selama lebih dari tiga jam.

Kemacetan bukan saja karena terdapat beberapa titik jalan menyempit menjelang masuk tol, namun lantaran disumbang oleh adanya tikungan tajam ke arah kiri di jembatan tol yang menuju ke Taman Bunga Wiladatika. Setelah ini jalan membelok lagi ke arah kanan. Di titik ini, di depan penyeberang¬an menuju Mal Junction, kemacetan tak terhindarkan karena sebagian besar angkutan umum banyak yang ngetem untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.

Maklum, dari arah Cileungsi dan sebaliknya, sekarang ini tersedia angkutan umum hampir ke seluruh wilayah Jabodetabek. Mulai dari jenis angkot yang kecil sampai dengan bus bus besar.

Masifnya Pembangunan Infrastruktur Namun, tak perlu khawatir, sebab tak lama lagi predikat jalur “neraka” ini akan segera berakhir. Sebab, pemerintah pusat tercatat tengah menjalankan program infrastruktur transportasi dan jalan di wilayah tersebut.

Salah satu upaya pemerintah dalam mengurai kemacetan di kawasan ini adalah dengan pembangunan transportasi massal berupa light rail transit (LRT) Jabodebek dengan trase Cibubur-Cawang. Sampai saat ini terus dikerjakan dengan pancangan tiang-tiang yang menjulang di sisi kiri dan kanan Jalan Tol Jagorawi.

PT Adhi Karya Tbk selaku kontraktor ditugaskan untuk membangun LRT Jabodebek yang dibagi dalam dua tahap dengan masing-masing tahapan terdiri dari tiga lintas pelayanan. Tahap satu meliputi lintas pelayanan Cibubur-Cawang, Bekasi Timur-Cawang, Cawang-Dukuh Atas (10,5 kilometer) dengan 21 stasiun dan panjang 42,1 kilometer.

Sementara itu, tahap dua lintas pelayanan Cibubur-Bogor (25 kilometer), Dukuh Atas-Palmerah-Senayan (7,8 kilometer), dan Palmerah-Grogol (5,7 kilometer) sehingga menghasilkan total panjang 41,5 kilometer.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:

https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia

atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com