Seberapa Ribet Take Over Proyek Macet?, Review Kasus (3)

Big Banner

Cara take over menjadi strategi

Bagi beberapa developer, mengembangkan proyek take over lebih menguntungkan dibandingkan mengembangkan proyek dari nol. Menurut Chief Executive Officer (CEO) Riscon Group Ari Tri Priyono, keuntungan itu antara lain, tidak perlu ruwet mengurusi perijinan karena sudah dikantongi pengembang lama. Lalu tidak perlu membangun infrastruktur karena sudah ada.

Keuntungan itu yang membuat Ari lebih memilih cara mengambil alih proyek properti macet untuk memperbesar perusahaan yang ia dirikan sejak tahun 2004. Sampai saat ini, hampir sebagian besar proyek yang sudah selesai maupun sedang dipasarkan Riscon Group adalah hasil take over proyek macet. Tak heran jika Riscon Group disebut sebagai pengembang spesialis take over proyek macet.

Ari menuturkan, kelahiran Riscon Group sebagai pengembang juga karena disebabkan proyek macet. Sebelum menjadi developer, Ari adalah kontraktor. Nah, proyek perumahan yang sedang digarap Ari belakangan macet. Pengembangnya tidak bisa membayar. Singkat cerita, akhirnya Ari mengambil alih proyek perumahan yang macet itu. Pengalaman itu kemudian menjadi berharga.

Ari jadi tahu bagaimana mengurus proyek properti macet dan belajar menjadi developer. Lulusan Institut Teknologi Surabaya (ITS) jurusan teknik sipil ini pun ”ketagihan” mengambil alih proyek mangkrak. ”Dari pengalaman, ternyata banyak keuntungan bisa didapatkan dengan mengambil alih proyek macet,” ujar Ari.

Walau begitu, Ari tetap selektif memilih proyek macet yang akan diambil alih. ”Kami hanya memilih proyek macet yang lokasinya strategis, legalitas sudah clear, dan harganya murah,” kata Ari seraya mengatakan saat ini semakin banyak proyek macet yang ditawarkan kepada Riscon Group.

Ada beberapa sebab proyek macet. Sebagian besar kata Ari adalah karena miss manajemen, antara lain pengembang memakai uang pinjaman bank untuk keperluan lain, misalnya untuk membuka usaha tambang. ”Kebanyakan terjadi pada pengembang baru atau yang baru ekspansi,” kata Ari. Informasi proyek macet biasanya didapatkan Ari dari berbagai sumber, antara lain perbankan, developer yang macet, kontraktor, dll.

Untuk proyek mangkrak, kata Ari, biasanya memerlukan waktu 6 bulan hingga bisa dipasarkan. Setelah melakukan perbaikan infrastruktur dan mengedukasi masyarakat bahwa proyek macet sudah diambil alih oleh Riscon Group. ”Kalau membangun baru, biasanya persiapannya lebih lama, bisa lebih dari setahun. Apalagi mengurus perijinan yang lama. Jadi, mengambil alih proyek macet lebih menguntungkan,” kata Ari.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me