Seberapa Ribet Take Over Proyek Macet?, Review Kasus (4)

Big Banner

Merubah konsep

Strategi yang sama juga dilakukan PT Tridaya Mandiri. Perusahaan dengan core business pertambangan dan perminyakan ini mengakuisisi apartemen East Point senilai Rp110 miliar. “Kita melihat ada peluang untuk menggarap proyek yang hampir jadi tapi macet karena lemah di pemasaran dan cash flow,” ujar Agustianto Batubara, Direktur Utama PT Tridaya Mandiri.

Apartemen East Point awalnya adalah rumah susun sederhana milik (rusunami) bernama Prima 1 yang dikembangkan PT Primaland Development, namun kemudian terhenti pembangunannya. Apartemen yang berada di Superblok Sentra Timur Pulo Gebang ini merupakan pilot project program 1000 Menara Rusunami yang diusung pemerintah. Pada Februari 2017, PT Tridaya Mandiri mengambil alih dan menyelesaikan pembangunannya.

“Setelah selesai kami bangun, baru kami pasarkan. Ini agar masyarakat percaya,” ujar Agustianto seraya mengatakan dalam waktu dekat pihaknya akan mengakuisisi proyek apartemen kawasan pusat bisnis Jl Jendral Sudirman, Jakarta, dan Bandung, Jawa Barat.

PT Tridaya Mandiri menawarkan apartemen East Point dengan harga Rp12 juta per m2. Harganya mulai Rp400 jutaan, tiga kali lipat lebih mahal dari harga perdana Rp144 juta/unit (2008). Agustianto menyebutkan biaya konstruksi proyek ini sekarang naik berlipat dibanding awal dibangun lebih dari lima tahun lalu. Dulu biayanya konstruksinya sekitar Rp2 juta/m2, sekarang Rp5 jutaan/m2.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

Di-rebranding

Pengembang lainnya yang aktif melakukan akuisisi proyek macet adalah PT Mandiri Sejahtera Utama (MSH Group) yang dimiliki mantan Ketua Umum REI dan Menteri Perindustrian era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), MS Hidayat. Pada tahun 2016 lalu, MSH Group mengakuisisi apartemen dan kondotel The Kencana Residence yang dikembangkan PT Menara Perkasa Margahayuland (MPM) dan sempat terhenti pembangunannya pada awal 2015 di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Sejak diakuisisi saham sebesar 75% oleh MSH Group, pembangunan The Kencana
Residence pun dilanjutkan dengan terlabih dahulu melakukan perubahan struktur pada beberapa hal, seperti sumber daya manusia, pembiayaan, termasuk kontraktor dan vendor. Pada akhir April 2016 lalu PT MPM melanjutkan proyek dengan sejumlah strategi baru.

Lalu pada April 2017 lalu, MSH Group mengakuisisi apartemen Selatan 8 yang dikembangkan PT Karya Cipta Group (KCG) di Jalan Ulujami Raya, Jakarta Selatan. Menyusul akuisisi ini dibentuk perusahaan baru PT Kebayoran Parama Propertindo (KPP). MSH Group menguasai 85% saham,
sisanya dipegang pengembang lama.

Di tangan pengembang baru proyek ini di-rebranding dengan nama baru yakni Kebayoran
Apartment. “Kami telah melakukan kajian mendalam terhadap proyek ini, kami lihat lokasinya strategis dan pasarnya cukup besar. Makanya kami setuju untuk mengambilalih proyek ini dan kami kerjakan lagi dari awal karena proyek ini juga belum dimulai konstruksinya,” ujar Susanto Kiswandono selaku Direktur KPP.

Sementara itu, Waskita Karya Realty juga mengakuisisi apartemen Geyeneti di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Apartemen tersebut terdiri dari sembilan menara yang dibangun di lahan 3,3 hektare dengan investasi Rp3,7 triliun. “Proses akuisisi sudah rampung, tinggal kerjasama kontrak. Mereka sudah bangun dua menara, kami akan lanjutkan sisanya,” kata Tukijo, Direktur Utama PT Waskita Karya Realty.

Lalu PT Adhi Persada Properti (APP) yang mengakuisisi perumahan Mountain Park Residence di jalan Soemanta Diredja, Batu Tulis, Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat seluas 10 hektare. APP kemudian merubah namanya menjadi Taman Dhika Batu Tulis. Setelah satu tahun di-take over, harga rumah di kawasan tersebut mengalami kenaikan sebesar 50%. Di lokasi pengembangan yang lama telah ada sekitar 100 unit rumah dan telah dihuni. Waktu akuisisi harga rumah tipe 36/72 adalah Rp398 juta, setelah setahun menjadi Rp600 juta.

Lonjakan harga tersebut bukan hanya karena nama besar pengembang APP yang merupakan anak usaha BUMN PT Adhi Karya (Persero) Tbk, tetapi juga adalah karena pengembang melakukan pembenahan
infrastruktur selain juga memperbaiki tampilan fasad rumah dan juga tata ruang atau denah layout sehingga tampilan perumahan
menjadi lebih berkelas.

Tidak jauh dari Taman Dhika Batu Tulis, Eureka Group melalui PT Nusa Raya Propertindo mengambil alih pengembangan proyek apartemen Green Valley Bogor di kawasan Bogor Nirwana Resort (BNR). Eureka mengembangkan konsep baru untuk menggarap proyek tersebut sehingga mengganti namanya menjadi Bogorienze. Proyek Bogorienze dikembangkan dengan mengusung konsep properti hijau, yang sejalan dengan arah perkembangan Kota Bogor yang semakin pesat menjadi kota tujuan wisata dan MICE. Perubahan konsep membuat Eureka Group optimis proyek Bogorienze
makin diminati oleh pasar.

Lukman Purnomosidi, Direktur Utama PT Nusa Raya Propertindo mengatakan, proyek Bogorienze ditawarkan sebagai properti strata title kepada investor properti ritel. “Kami memberikan peluang kepada buyer untuk membeli kondotel ini sebagai aset yang bisa mereka nikmati dan juga bisa mereka sewakan. Kami sudah menunjuk manajemen Hotel Salak sebagai operator manajemennya,” kata Lukman. MPI YS

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com