Beli Apartemen Pakai Tunai Bertahap. Makhluk Apaan Sih Itu?

Big Banner
Single family house on pile of money. Concept of real estate.

Di saat perbankan berlomba menawarkan suku bunga kredit yang menarik, alias rendah, Colliers Internasional mengungkapkan hal yang mencengangkan. Dalam kurun waktu empat tahun belakangan, pembayaran tunai bertahap menjadi pilihan para pembeli properti, terutama apartemen.

Sementara untuk rumah tapak, kredit dari bank masih menjadi favorit. Apartemen memang jadi obyek investasi paling menarik di sektor properti. Lantaran idenya adalah untuk investasi, maka kebanyakan orang enggan berurusan dengan bank karena terikat banyak aturan, salah satunya loan to value.

Lantas, apa sih tunai bertahap itu? Apa bedanya dengan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau Kredit Pemilikan Apartemen (KPA)?

Baca juga: Kenapa Gaya Hidup Berlebihan Bisa Gagalkan KPR?

Potongan Harga

Kelebihan tunai bertahap adalah adanya diskon atau potongan harga dari pengembang. Memang tidak sebesar mereka yang membeli secara tunai seluruhnya, tapi cukup menggiurkan, yakni antara 10-15 persen.

Down Payment

Perbankan terikat peraturan pemerintah terkait uang muka atau down payment (DP). Saat ini, pembeli rumah pertama hanya dikenakan DP sebesar 15 persen dari harga. Untuk rumah kedua dan selanjutnya, bertahan naik 20-30 persen.

Tunai bertahap mengenakan DP jauh lebih besar. Jelas, karena pengembang harus mengamankan modalnya terlebih dulu lantaran tidak ada jaminan dari bank. DP tunai bertahap bisa mencapai 50 persen dari harga rumah atau apartemen.

Bunga Pinjaman

Biasanya, pengembang tidak memberikan bunga terlalu besar bagi mereka yang mengangsur selama kurang dari satu tahun, atau kebanyakan enam bulan. Meski bunga pinjaman kecil, namun dengan tenor kurang dari 12 bulan, jelas membuat cicilan jadi sangat besar.

Baca juga: Hai Milenial, Siap-Siap DP 1% dan Bunga KPR Hanya 5%!

Tenor

Ya, tenor tunai bertahap paling lama hanya sekitar 60 bulan, atau lima tahun. Jika dijumlahkan seluruhnya, harga properti yang dibeli tidak jauh berbeda dengan banderol dasar rumah tersebut.perhitungan inilah yang membuat investor lebih tertarik menggunakan cara pembayaran ini.

Berbeda dengan bank yang mematok uang muka atau (DP) hanya 15-30 persen dari harga rumah, sisanya akan ditutup dengan KPR atau KPA yang bisa berlangsung hingga 25 tahun, atau sekitar 180 bulan. Meski bunga kredit yang ditawarkan cukup kompetitif, secara total, harga properti yang dibeli menjadi cukup tinggi, sekitar dua kali lipat.

Risiko Tinggi

Tunai bertahap memang mudah. Tak perlu banyak aturan seperti perbankan. Tak juga perlu menunggu layaknya approval KPR atau KPA. Sayangnya, justru karena tidak memiliki aturan yang baku, tunai bertahap rentan masalah.

Perlu Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) di atas materai ketika sudah mencapai kata sepakat. Tips-nya, sangat penting meneliti lebih dulu latar belakang si developer agar tidak tertipu. Penting, lho!

Baca juga: 5 Keuntungan Beli Rumah Pake KPR, Mau Tahu?

rumah123.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me