Peluang Bisnis Properti di Kawasan Ekonomi Khusus (2)

Big Banner

Pengembang properti yang sudah cukup lama menggarap KEK adalah PT Jababeka Tbk.. (KIJA) yang ditetapkan sebagai pengelola KEK Tanjung Lesung melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 26 Tahun 2012, melalui anak usahanya yakni PT Banten West Java Tourism Development (BWJ). Berlokasi di ujung paling barat Pulau Jawa, yaitu Kabupaten Pandeglang, Banten, KEK Tanjung Lesung merupakan KEK Pariwisata pertama dan telah diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo pada 23 Februari 2015 lalu.

Tanjung Lesung yang terletak sekitar 170 km barat daya Jakarta ini diharapkan akan menjadi katalisator bagi pengembangan perekonomian baik di tingkat nasional maupun daerah. Di lahan seluas sekitar 1.500 Ha saat ini sudah dibangun berbagai fasilitas untuk wisatawan. Seperti Tanjung Lesung Beach Hotel, Kalicaa Villas, Sailing Club, Legon Dadap Village, Blue Fish, Beach Club, dan Golf Driving Range.

Juga ada Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) yang dikelola administrator untuk memudahkan investor. Sehingga investor tidak perlu mengurus perizinan ke pusat ataupun ke tingkat provinsi, tapi bisa langsung ke administrator. PT Jababeka Tbk. tengah mencari mitra strategis baru untuk mengembangkan Tanjung Lesung. Saat ini Jababeka telah menjalin kerjasama dengan perusahaan asal Korea Selatan DW Development.

Sekretaris Perusahaan Jababeka Muljadi Suganda menjelaskan, Jababeka sangat terbuka terhadap mitra baru untuk mengembangkan kawasan tersebut. Perseroan tidak mengeksklusifkan mitra hanya pada satu pihak. Jababeka memang membutuhkan mitra untuk mengembangkan Tanjung Lesung. Untuk membangun sebuah kawasan membutuhkan modal besar, sehingga tidak mungkin hanya Jababeka yang membangun kawasan tersebut.

Menteri Pariwisata RI Arief Yahya memprediksikan harga lahan di KEK Tanjung Lesung bakal meroket 100%, setelah pembangunan tol Serang- Panimbang selesai di tahun 2019. “Kalau sekarang harganya Rp1 juta per m2, mungkin nanti bisa sampai Rp5 juta per m2. Kalau tol Serang- Panimbang selesai, kawasan Tanjung Lesng akan ‘meledak’ karena akan lebih cepat dicapai. Jadi baiknya investor mulai masuk dari sekarang,” kata Arief Yahya.

Bambang Wijanarko dari Sekretariat Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus mengatakan selain jalan tol, upaya lain untuk memuluskan akses ke KEK Tanjung Lesung adalah dengan memaksimalkan penggunaan airstrip (landasan terbang) sepanjang 1,2 kilometer untuk pesawat ukuran kecil. Bambang yakin penggunaan airstrip jika rutin bisa lebih mendorong investor untuk datang.

“Sementara bandara belum ada, airstrip bisa digunakan,” kata Bambang. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Tanjung Lesung tahun 2017, baik asing maupun domestik, diperkirakan berjumlah sekitar 600 ribu orang. Meningkat dari tahun sebelumnya yang ada di kisaran 400 ribu wisatawan.

PT Wijaya Karya Serang Panimbang (WSP) selaku pemilik konsesi menargetkan tol sepanjang 84 km ini bisa rampung pada akhir Desember 2019. Direktur Utama PT WSP, Entus Asnawi mengatakan, pembangunan tol ini akan mengembangkan daerah- daerah yang ada di provinsi Banten yang terkenal akan potensi agrikultur dan pariwisatanya.

Hal ini diharapkan bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat Banten seiring dengan tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru lewat pembangunan jalan tol ini. “Properti juga akan berkembang dengan sendirinya. Biasanya kalau bangunnya di wilayah perkotaan, itu dalam 1-2 tahun tumbuh. Tapai kalau daerah yang lebih rural (pedesaan) itu sekitar 4-5 tahun,” ungkap Entus. Tol Serang-Panimbang dioperasikan oleh PT Wijaya Karya Serang Panimbang yang kepemilikan sahamnya terdiri atas 80% milik Wika, 15% milik PT PP dan 5% milik PT Jababeka Infrastruktur.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me