Sepak Terjang Ekspansi Developer Properti Asing di Indonesia (1)

Big Banner

Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi Januari 2018 di rubrik Monitor di antaranya membahas seputar investasi properti asing di Indonesia. (Edisi terbaru dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia)

Disebutkan meski secara umum bisnis properti masih berada dibawah tekanan, menurut kacamata investor asing bisnis properti di Indonesia masih memiliki peluang yang menggiurkan. Pasar properti Indonesia menjadi incaran banyak developer atau pengembang asing. Satu per satu developer asing terus berdatangan. Sepanjang tahun 2017, misalnya. Ada lebih dari 10 developer asing yang mulai menancapkan kukunya menjalin kerjasama dengan pengembang lokal. Mayoritas dari mereka berasal dari Jepang, Singapura, China, dan Hong Kong.

Wakil Ketua Umum DPP Persatuan Realestat Indonesia (REI) bidang hubungan luar negeri Rusmin Lawin menilai Indonesia masih memiliki potensi besar untuk menarik investasi asing di industri
properti dalam beberapa tahun mendatang.

Selama ini Indonesia mampu menjaga stabilitas politik dan iklim makro ekonomi yang kondusif sehingga menarik asing untuk berinvestasi. “REI melihat masuknya banyak investasi pengembang asing itu cukup positif. Karena itu justru akan membawa energi baru bagi perekonomian nasional. Investasi langsung asing atau Foreign Direct Investment (FDI) itu adalah salah satu mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jadi semakin banyak, semakin tinggi tentu akan semakin bagus,” ungkap Rusmin Lawin.

Proyek yang dikembangkan pengembang asing kebanyakan berlokasi di Jabodetabek. Terbanyak di kawasan Banten. Di Serpong, Sinarmas Land melalui PT Bumi Serpong Damai Tbk. dan Mitsubishi Corporation membentuk sebuah perusahaan joint venture di Indonesia yang diberi nama PT BSD Diamond Development (BDD) untuk mengembangkan proyek mixed use The Zora di BSD City. Di atas tanah seluas 19 hektare (Ha) akan dibangun 1.000 unit hunian serta kawasan komersial dengan konsep “Beauty of Balance”.

CEO Strategic Development & Services Sinar Mas Land, Ishak Chandra mengatakan bahwa proyek kolaborasi ini membuktikan adanya kepercayaan yang tinggi dari investor asing untuk mengembangkan kawasan BSD City. Proyek ini digadang-gadang memiliki nilai investasi senilai US$ 260 juta.

Di kawasan Alam Sutera, Tangerang, dan sekitarnya, pengembang asing juga banyak yang membangun proyek properti antara lain Kingland Group (Hong Kong) dan Moizland (Tiongkok) yang membangun Kingland Avenue dan The Palm Regency Mall and Condominium.

Menurut President Director PT Hong Kong Kingland, Timothy Chang, nilai investasi proyek Kingland
Avenue dengan konsep integrated development 5 in 1 yang terdiri dari apartemen, perkantoran, condotel, commercial retail mencapai Rp5 triliun. Saat ini Kingland Avenue telah membangun apartemen tower pertama yakni The Venetian (24 lantai/600 unit) yang diharapkan dapat diserahterimakan secara bertahap mulai tahun 2020. Setelah The Venetian, The Fritz, yang merupakan tower kedua, juga akan segera dipasarkan dengan harga mulai dari Rp350 juta dan diperuntukkan bagi masyarakat kelas menengah. Apartemen 30 lantai sebanyak 1000 unit ini diharapkan selesai 2021.

Datzo Investama Group dari Hongkong juga membangun apartemen The Nobel di Boulevard Alam Sutera, Tangerang. Rencananya apartemen ini terdiri dari 4 tower, di mana tower pertama akan dipasarkan adalah Kent Tower. Menurut Ma Ruizhi, Vice Director PT Datzo Investama Group, apartemen The Noble dikembangkan di atas lahan seluas 15.000 m2. Total unit apartemen ini sekitar 1.812 unit.

“Kami akan membangun semua menara. Jika semua berjalan sesuai rencana, kami menargetkan serah terima kepada pemilik pada akhir 2020 untuk Kent Tower,” kata Ma Ruizhi. Tower Kent yang terdiri dari 35 lantai dengan total unitnya sekitar 447 unit membutuhkan investasi Rp600 miliar dari Rp2 triliun yang disiapkan untuk 4 tower yang direncanakan.

The Noble merupakan proyek perdana perusahaan ini di luar Hongkong dan China. “Di Jakarta saat ini kami sedang mengincar lahan di beberapa titik yang luasnya lebih besar dari lahan The Noble,” ungkap Ma Ruizhi.

Sementara itu, PT Agung Sutera Properti dalam mengembangkan apartemen Saumata menara ke-3 dan ke-4 di Alam Sutera, Tangerang tengah menjajaki kerjasama dengan perusahaan asal Perancis. Menurut Direktur Pemasaran Boy Noviyandi, nilai investasi untuk kedua menara ini tidak jauh berbeda dibandingkan dengan dua menara sebelumnya. “Investasi untuk 2 menara ini Rp700 miliar. Kurang lebih sama dengan dua menara sebelumnya Rp800 miliar- Rp900 miliar,” ujar Boy.

Dari segi harga, Saumata Suites kini tengah dipasarkan seharga Rp32 juta per m2, sedangkan untuk menara ke-3 harganya mulai dari Rp27 juta per m2. Boy menjelaskan, menara ketiga dan keempat mencakup unit yang lebih kecil mulai dari 60 m2 dengan 2 kamar tidur sampai 150 m2 dengan 3 kamar tidur, karena permintaan calon konsumen.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com