Pasar Rumah Seken di Surabaya Masih Bergairah

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Letihnya pasar properti empat tahun terakhir ini tidak berpengaruh signifikan terhadap permintaan rumah seken di Surabaya, Jawa Timur. Bangunan yang sudah jadi dan proses pengajuan kredit ke bank yang lebih cepat membuat banyak konsumen melirik rumah seken. Penawarannya juga cukup berlimpah karena sejumlah pemilik properti membutuhkan likuiditas.

Contoh rumah seken di kawasan Rungkut, Surabaya Timur, tipe 100/160 yang ditawarkan Rp1,1 miliar. (Foto: Dok. Xavier Marks Tjandra Ngagel)

Contoh rumah seken di kawasan Rungkut, Surabaya Timur, tipe 100/160 yang ditawarkan Rp1,1 miliar. (Foto: Dok. Xavier Marks Tjandra Ngagel)

Lina Cioko, prinsipal Xavier Marks Tjandra Mayjen Sungkono, salah satu broker properti seken di Surabaya, mengatakan, permintaan dan penawaran rumah seken di Surabaya cukup gencar empat bulan belakangan. “Yang jual kebanyakan investor, yang cari kebanyakan end user (yang hendak menghuni sendiri rumahnya),” katanya kepada housing-estate.com melalui telepon, Selasa (16/1/2018).

Ada yang menjual karena butuh uang, ada juga yang memang sudah waktunya menjual propertinya. “Dua-duanya mayoritas tipikal investor. Tapi mereka nggak mau banting harga. Tetap bertahan di harga tinggi karena sudah punya (rencana memenuhi) kebutuhan tertentu (dari hasil penjualan rumahnya). Mereka tahu harus lepas di harga berapa. Kalau nggak sesuai, nggak akan dijual,” terangnya.

Kawasan Surabaya Barat dan Timur masih menjadi favorit konsumen selain kawasan padat lain di Surabaya. “Barat lebih berkembang walaupun harganya agak mahal tapi kenaikannya juga cepat. Timur rerata harga rumahnya agak rendah tapi kenaikannya lambat. Kalau dihuni sendiri lebih baik di Timur, tapi kalau untuk investasi sebaiknya di Barat karena lokasinya maju pesat. Mau apapun nggak perlu kemana-mana lagi,” kata Lina.

Penawaran paling riuh di harga Rp1,3–6 miliar. Yang ratusan juta ada, tapi lokasinya di permukiman umum, bukan di kawasan real estate. “Yang miliaran banyak ditawarkan di perumahan menengah atas seperti Graha Famili, CitraLand, Darmo Permai, Pradah Permai, Wisata Bukit Mas dan Pakuwon Indah,” ungkapnya.

Paling banyak peminatnya properti seharga Rp2 miliar karena lebih mudah terjual. “Pasang iklan, sehari yang nelpon bisa  4-5 orang,” ujar Lina. Harga segitu di kawasan Surabaya Barat bisa dapat rumah dengan luas tanah 150-200 m2.

“Graha Famili banyak yang cari karena kawasannya sudah berkembang tapi harganya lebih terjangkau, sekitar Rp15 juta per meter (tanah). Biasanya pemilik buka harga buka Rp16-17 juta. Kalau Pakuwon Indah dan CitraLand antara Rp12-13 jutaan tapi ukuran rumahnya lebih kecil,” urainya.

Di wilayah Timur, dengan uang Rp2 miliar konsumen bisa membeli rumah ukuran 200-250 m2 tergantung area. Di kawasan Rungkut dan Sukolilo misalnya, rumah tipe 220/120 dibanderol Rp2,1 miliar. “Itu masih bisa nego. Mentok banget Rp1,9 miliar dilepas kalau jualnya kelamaan,” katanya.

Sementara di perumahan elit Dharmahusada hanya bisa membeli rumah ukuran 100 m2. “Sudah mahal, sekitar Rp15-18 juta per meter. Yang menawarkan juga sedikit karena yang tinggal di sana orang-orang kaya asli Surabaya. Mereka nggak akan jual kalau nggak butuh uang banget,” jelasnya. Menurut Lina, transaksi properti seken di Surabaya banyak yang tunai keras ketimbang dengan kredit pemilikan rumah (KPR). “Saya seringnya begitu. Selalu dapat pembeli yang bayar tunai,” pungkasnya.

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me