Pengembang: Sekarang Kami Lebih Tahu Diri

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Produk properti seperti hunian selain untuk dihuni kerap dijadikan atau ditawarkan sebagai instrument investasi dengan iming-iming kepastian kenaikan harga. Pada beberapa kasus hal itu membuat kenaikan properti tersebut menjadi tidak wajar alias di atas nilai pasarnya yang kemudian menyulitkan konsumen ketika akan menjualnya kembali.

Suasana konsumen yang memesan unit apartemen Cimanggis City di kantor pemasarannya di Jl Raya Bogor, Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. (Foto: Dok. Cimanggis City)

Suasana konsumen yang memesan unit apartemen Cimanggis City di kantor pemasarannya di Jl Raya Bogor, Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. (Foto: Dok. Cimanggis City)

Situasi ini telah membuat beberapa anomali dan kekisruhan pasar. Kita bisa melihat beberapa contohnya di kawasan Serpong (Tangerang Selatan, Banten) yang pada saat booming properti beberapa tahun lalu kenaikan harga propertinya bisa mencapai 50 persen bahkan lebih dalam setahun.

“Tentu kita belajar dari berbagai kasus tersebut dan sekarang sudah banyak perilaku bisnis properti yang berubah. Intinya sekarang kami lebih tahu diri lah, sehingga semuanya berjalan dengan kewajaran, tidak lagi mengusung jargon kenaikan yang bombastis,” kata Sanggam Sitorus, Project Director PT Permata Sakti Mandiri, pengembang apartemen Cimanggis City saat berbincang dengan housing-estate.com di kantor marketingnya di Jalan Raya Bogor, Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat, pekan ini.

Cimanggis City merupakan proyek apartemen dua tower (800 unit/tower) yang dibangun di atas lahan seluas 1 ha. Proyek ditawarkan sejak bulan Mei tahun lalu dan hingga saat ini penjualannya sudah mencapai 330 unit dari 800 unit di tower pertama yang pertama dipasarkan. Akhir bulan ini Cimanggis City akan memulai pembangunannya (ground breaking) menara pertama itu.

Sanggam sendiri menampik penjualan proyeknya disebut lambat karena selama delapan bulan hanya menjual sebanyak 330 unit, mengingat situasi pasar yang kurang kondusif sejak tahun 2014.

Menurutnya, penjualan Cimanggis City merupakan salah satu contoh progres proyek yang alamiah karena lokasi dan segmen harga yang ditawarkannya merupakan produk yang memang paling dibutuhkan konsumen.

“Angka penjualan itu riil karena kita mau apa adanya. Kalau patokannya booking itu sudah mencapai lebih dari 500 unit. Ini bagian kita mau lebih jujur terkait progres proyek ini. Jujur juga kami akui, saat bulan September tahun lalu penjualan kami sempat drop karena ada penawaran apartemen transit oriented development (terintegrasi transportasi massal) milik Perumnas di stasiun Tanjung Barat dan Pondok Cina (di jalur kereta komuter Bogor-Depok-Jakarta tidak begitu jauh dari Cimanggis City). Tapi setelah itu konsumen mulai melirik lagi ke sini, karena kita juga punya beberapa keunggulan terkait konsep, lokasi, dan aksesibilitas,” jelasnya.

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me