APP: Proyek TOD Harus Mengintegrasikan Kawasan di Sekitarnya

Big Banner

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta – Pemerintah tengah mengembangkan banyak proyek transportasi massal. Salah satunya kereta ringan atau light rail transit (LRT) Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) yang dikerjakan oleh PT Adhi Karya Tbk.

Proyek apartemen Grand Dhika City dari Adhi Persada Properti di Bekasi Timur (foto : HousingEstate/Susilo Waluyo)

Proyek apartemen Grand Dhika City dari Adhi Persada Properti di Bekasi Timur (foto : HousingEstate/Susilo Waluyo)

Di jalur LRT ini Adhi Karya juga mengembangkan proyek apartemen berbasis atau terintegrasi transportasi massal atau transit oriented development (TOD) bernama LRT City.

Demikian pula PT Adhi Persada Properti (APP), anak perusahaan Adhi Karya yang menggarap bisnis properti, juga memiliki tiga proyek di jalur LRT Jabodetabek kendati tidak semuanya berkonsep TOD. Yaitu, The Conexio Jatibening, Grand Dhika Bekasi Timur, dan satu lagi yang belum diberi nama, semuanya di Kota Bekasi, Jawa Barat.

Menurut Direktur Utama APP Agus Sitaba, konsep hunian TOD itu bukan ekslusif untuk proyek yang dikembangkan di lokasi, tapi juga harus mengintegrasikan kawasan di sekitarnya.

“Ada beberapa syarat untuk menyebut sebuah kawasan itu TOD. Proyek harus terbuka terhadap lingkungan sekitarnya, jalan kaki (di kawasan TOD) tidak boleh lebih dari tujuh menit untuk mencapai sarana transportasi, dan beberapa syarat lain. Jadi, konsep TOD itu tidak ekslusif untuk proyek yang kita kembangkan,” katanya kepada housing-estate.com saat meresmikan pengoperasian bus Transjabodetabek Premium di Grand Dhika Jatiwarna, Bekasi, Kamis (1/2/2018).

Sebagai pengembang, lanjut Agus, APP harus bisa membuat sebuah konsep jalur pedestrian dan sirkulasi lain di proyeknya, agar masyarakat sekitar bisa mengakses moda transportasi di dalam kawasan proyek dengan mudah dengan berjalan kaki atau bersepeda.

Di sisi lain penghuni apartemen dan properti lain di kawasan tetap merasakan kenyamanan, keamanan dan privasi kendati kawasan terbuka untuk masyarakat umum.

Selain mudah diakses masyarakat umum, di proyek juga harus disediakan park and ride untuk memarkir kendaraan bermotor bagi komuter yang melanjutkan perjalanan dengan LRT.

Dengan konsep yang terbuka itu, kata Agus, pengembang juga diuntungkan karena proyeknya menjadi lebih hidup dan ramai dilintasi orang yang kemudian berdampak pada prospek properti komersial dan fasilitas lainnya.

“Ke depan tentu konsep TOD ini akan terus disempurnakan, dan kami sebagai pengembang akan mengikuti aturan itu. Makanya koordinasi terus ditingkatkan dengan pihak-pihak terkait untuk mewujudkan konsep TOD. Seperti di Grand Dhika Jatiwarna ini kami hadirkan bus Transjabodetabek. Proyek ini TOD, tapi kami mempermudah (akses penghuni ke stasiun trasnportasi massal seperti LRT), karena hunian yang baik itu yang terintegrasi dengan transportasi umum massal,” jelasnya.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

housing-estate.com