Hutan Tropis di Dalam Kantor Amazon

Big Banner

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta – Lupakan fasilitas bermain, itu sudah gaya jaman “old”. Yang lebih zaman “now” adalah hutan di dalam kantor. Itulah yang dibuat Amazon, perusahaan ritel online terbesar di dunia, di kantor pusatnya di Seattle, Amerika Serikat.

(Foto: cdn.turner)

(Foto: cdn.turner)

Berlokasi di distrik South Lake Union, kantornya itu disebut the Spheres Complex. Siap menjadi tengara baru, tidak saja untuk kawasan, pun kota yang indah tersebut.

Kantor pusat Amazon ini memang unik bentuknya, terdiri atas tiga kubah raksasa berbahan gelas yang saling menyambung setinggi 27,4 meter dengan diameter hampir 40 meter. Dirancang biro arsitek NBBJ, di dalam kubah ditanami 40.000 tumbuhan dari 400 spesies, sehingga kantor lebih mirip green house daripada sebuah tempat kerja untuk 800 pekerja.

“Idenya adalah bagaimana kami terkoneksi dengan alam secara langsung,” kata Ron Gagliardo, Leading horticulturist Amazon. Amazon ingin menjauhkan para pekerja dari lingkungan kantor yang normal. Karena itu Anda tidak akan melihat meja-meja atau bilik-bilik kerja di sini.

Ruang kerja dibangun di antara rimbunnya tanaman, membuat anda seakan bekerja di ruang terbuka hijau yang rimbun. Lorong penghubung antara ruang kerja dan ruang rapat lebih mirip jalur pejalan kaki, melayang di tepi hutan. Dilengkapi dengan sungai dan air terjun buatan serta tiga ruang rapat berbentuk rumah pohon dan sebuah ruang konferensi berdesain bak kandang burung.

(Foto: entrepreuner)

Diharapkan dengan lingkungan seperti itu para karyawan Amazon akan menelurkan rencana dan produk-produk baru yang inovatif. Gedung memang hanya bisa dimasuki oleh karyawan Amazon, toko offline-nya tetap ada di area depan yang terbuka untuk umum. Pengunjung bisa masuk ke dalam kantor dengan pengaturan khusus.

Sudah beroperasi sejak Senin, 29 Januari 2018, the Spheres diresmikan Jeff Bezos, pendiri Amazon, dan dilakukan dengan cara yang tidak biasa. Tidak dengan memencet tombol atau menggunting pita, tapi dengan berteriak, “Alexa! Buka the Spheres,” dan secara otomatis sebuah lingkaran cahaya biru bersinar di atap kubah. Alexa sendiri adalah perangkat kontrol yang bisa dikendalikan suara keluaran Amazon.

(Foto:financial express)

Untuk membuat kantor baru ini Amazon berinvestasi senilai 3,7 miliar dolar AS atau Rp49,73 triliun, dengan proses pembangunan memakan waktu hampir tujuh tahun. Dengan biaya yang lebih tinggi daripada biaya pembangunan LRT Jakarta (Rp31 triliun) itu, Amazon memang tidak mau tanggung-tanggung.

“Kami ingin menciptakan sesuatu yang betul-betul spesial, sesuatu yang bisa menjadi tengara baik untuk kantor kami, juga untuk Seattle,” kata  John Schoettler, Vice President of Global Real Estate and Facilities Amazon.

Seperti disampaikan pada situs Amazon, perusahaan ritel online ini sudah hadir di Seattle sejak tahun 2010. Hingga 2016 sudah menyumbang bagi perekonomian kota sebanyak 38 miliar dolar AS (Rp510,75 triliun), di mana setiap dolar investasi menumbuhkan 1,4 dolar AS (Rp18.800) ke perekonomian kota secara keseluruhan.

Baru saja punya kantor baru, tak membatasi ide Amazon untuk kantor pusat berikutnya di kawasan Amerika Utara yang disebut HQ2 (kantor pusat 2). Rencana kantor baru itu diperkirakan akan berbiaya 5 miliar dolar AS (lebih dari Rp67 triliun) dan disebut bisa menciptakan 50.000 lapangan kerja.

Lokasi HQ2 baru akan ditentukan akhir tahun ini. Dari 238 kandidat, sudah terseleksi 20 kota. Antara lain Boston, New York, Austin dan Texas.

Sumber: Reuters, USA Today, Amazon

Lihat tampilan baru di housingestate.id

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me