Solo Kota Paling Layak Huni di Indonesia

Big Banner

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta – Ikatan Ahli Perencana (IAP) Indonesia kembali melansir “Most Liveable City Index” (MLCI) atau indeks kota layak huni, yakni pemeringkatan kota yang dinilai mempunyai lingkungan dan atmosfer paling nyaman sebagai tempat tinggal dan bekerja.

(Foto: Surakarta.go.id)

(Foto: Surakarta.go.id)

Didasarkan pada survei terhadap persepsi warga di 26 kota tahun lalu, hasilnya Solo menjadi kota paling layak huni 2017.

Survei didasarkan pada tujuh kriteria: ketersediaan kebutuhan dasar (perumahan, air bersih, listrik, sanitasi, pangan, dan lain-lain), ketersediaan fasilitas umum dan sosial, ketersediaan ruang publik sebagai wadah interaksi antar-komunitas, keamanan dan keselamatan, partisipasi masyarakat dalam pembangunan, dukungan ekonomi, sosial dan budaya kota, serta kualitas lingkungan.

“MLCI bisa menjadi ukuran kualitas kota. Satu-satunya yang didasarkan survei persepsi warga dan melibatkan para ahli, sehingga hasilnya bisa menjadi referensi para pembuat kebijakan kota,” kata Bernadus Djonoputro, Ketua IAP, melalui siaran pers di Jakarta, Rabu (31/1/2018).

Solo mendapat nilai setinggi 66,9, enam kota lain mendapat nilai di atas 65. Yakni, Palembang, Balikpapan, Denpasar, Semarang, Tangerang Selatan dan Banjarmasin. IAP mengkategorikan kota-kota  tersebut sebagai “Top Tier Citiesdi mana rata-rata merupakan kota dengan karakter kelokalan yang kuat dan preservasi karakteristik tradisional yang kental (Solo, Denpasar, Semarang, Banjarmasin).

“Kecuali Tangerang Selatan yang merupakan kota baru yang modern,” ujarnya. Tangerang Selatan baru kali ini diikutkan pada survei MLCI.

MLCI 2017 juga menunjukkan, selain Solo, Balikpapan dan Denpasar konsisten berada di kategori tersebut. Adapun Palembang dan Banjarmasin makin membaik dibandingkan hasil survei tahun 2014. Sementara Semarang dan Banjarmasin terus membaik sejak 2009 dan membuatnya selalu berada di posisi “Top Tier City”.

Meskipun berada di peringkat teratas, nilai Solo sejatinya lebih rendah daripada hasil survei 2014. Kala itu Solo mendapat nilai 69,38. Bagaimana dengan kota-kota besar?

Surabaya, meski berada di kelompok “Average Tier City” (kota dengan nilai indeks kelayakan rata-rata), pada setiap survei menunjukkan peningkatan. Berturut-turut nilainya pada survei 2009 adalah 53,13, 2011 (56,38), 2014 (61,7) dan 2017 (63,2).

Jakarta juga menunjukkan peningkatan kualitas dibandingkan hasil survei tiga tahun lalu. Di kelompok ini Bandung dan Yogyakarta adalah dua kota yang tidak bisa mempertahankan kualitasnya. Hasil surveinya tahun 2017 lebih rendah dari 2014.

MLCI 2017 memperlihatkan, tingginya pendapatn asli daerah (PAD) tidak menjamin kota bisa memberikan fasilitas yang mendukung kehidupan warganya. Ini ditunjukkan oleh Surabaya dan Jakarta yang mempunyai PAD tinggi tapi hanya masuk di kelompok “rata-rata”.

Dari tujuh kriteria besar di atas, hanya lima aspek yang tercakup di dalamnya yang dinilai tinggi dan memberikan hasil yang tinggi pula terhadap nilai indeks sebuah kota. Yaitu aspek ketersediaan pangan, fasilitas peribadatan/layanan keagamaan, penyediaan air bersih, fasilitas pendidikan dan fasilitas kesehatan.

Sementara lima aspek lain yang dinilai rendah di seluruh kota adalah transportasi, keselamatan kota, pengelolaan air kotor dan drainase, fasilitas pejalan kaki serta informasi pembangunan dan partisipasi masyarakat.

Warga mempersepsikan kemacetan di kota-kota besar makin parah dan hampir sebagian besar warga menilai fasilitas pejalan kaki di kotanya dalam kondisi buruk. Warga kota juga belum merasa aman dari bencana dan mereka kurang diikutsertakan dalam pembangunan kotanya. Selain itu harga rumah juga semakin tidak terjangkau bagi warga kota.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

housing-estate.com