Belajar dari Bank Sampah Depok Setor Sampah Dapat Duit

Big Banner

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta – Depok (200.3 km2 atau sekitar 20.000 ha), Jawa Barat, serupa dengan kota-kota lain di megapolitan Jabodetabek, menghadapi persoalan sampah. Bukan hanya karena kurangnya lahan untuk menampung sampah, tapi pengelolaannya juga belum melibatkan partisipasi warga.

Jangan heran dengan produksi sampah 1.600 meter kubik (m3) per hari, hanya 40% yang tertangani. Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) di Cipayung tidak mampu menampung sebagian besar sampah itu, sehingga menumpuk di mana-mana.

Resah melihat situasi itu, Isnarto (43) dan Abdul Rahman (44), mengagas pembentukan bank sampah tahun 2010. Isnarto adalah warga Depok yang menjadi pengajar lepas di beberapa universitas di Jakarta dan sekitarnya. Sedangkan Abdul Rahman adalah PNS di Sekretariat Kota Depok. Wilayah lain di Indonesia layak menirunya.

Cikal bakal bank sampah itu dimulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) “Mas Koki” yang dibentuk Isnarto untuk balita dari kalangan kurang mampu di Beji. “Supaya anaknya bisa sekolah kita minta orang tuanya membayar dengan sampah, terutama sampah daur ulang (anorganik) yang mempunyai nilai ekonomis. Sampah organik (basah) juga punya nilai tapi harus diolah dulu,” kata magister manajemen dari Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila (Jakarta) itu.

Abra, panggilan akrab Abdul Rahman, yang kemudian jadi pejabat di Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok, mendukung gagasan Isnarto karena melibatkan partisipasi warga mengelola sampah.

Seminggu sekali warga menyetor sampah anorganik ke Bank Sampah untuk ditimbang.

Seminggu sekali warga menyetor sampah anorganik ke Bank Sampah untuk ditimbang.

Tidak langsung diterima

Tapi gagasan itu tidak serta merta diterima warga. Karena itu keduanya menggelar sosialisasi intens tentang pentingnya bank sampah dan bagaimana memilah sampah di rumah, door to door ke setiap kecamatan melibatkan lurah dan pengurus RT/RW.

“Satu kecamatan penduduknya bisa 400 ribu jiwa. Bayangkan kalau yang sosialisasi hanya kami berdua,” kata Abra yang didapuk menjadi Ketua Bank Sampah Manggala, Beji. Hasilnya, kini terbentuk 300 bank sampah di tujuh dari 11 kecamatan di Depok seperti Sukmajaya, Beji, Cimanggis, Tapos, Cipayung, Cilodong, dan Sawangan.

Tadinya semuanya bergerak sendiri-sendiri, sejak April 2014 berhimpun di bawah Asosiasi Bank Sampah Depok (ABSD) dengan Ketua Isnarto. Sekitar 15 ribu KK aktif menyetor sampah anorganik ke ratusan bank sampah itu tiap minggu.

Lahan penampungan (sekitar 1.000 m2/bank sampah) dan kendaraan pengangkut disediakan Pemkot Depok. Ada juga bantuan truk pengangkut dan peralatan pengolahan sampah dari program tanggung jawab sosial (corporate social responsibility/CSR) perusahaan besar.

Warga (nasabah) penabung sampah tinggal mendaftar ke bank sampah terdekat, kemudian menyetor sampah yang telah dipilah di rumah masing-masing. Satu bank sampah saat ini memiliki 25–35 nasabah. Bank mencatat berat sampah setiap nasabah, kemudian menjualnya ke pengepul.

Yang diterima sampah anorganik seperti kardus, kertas, plastik, kaca, logam, dan sejenisnya yang bisa didaur ulang. Sampah organik seperti sisa makanan dan dedaunan disetor ke Unit Pengolahan Sampah (UPS) Pemkot Depok untuk diolah menjadi kompos. Saat ini 22 dari 30 UPS itu aktif beroperasi. Jadi, sampah yang dibawa ke TPA Cipayung hanya yang tidak bisa diolah dan tak ada nilai ekonomisnya.

tabungan sampah

Target 2000 bank sampah

Harga sampah bervariasi. Kaca dihargai Rp300–500/kg, plastik Rp1.600–5.000, kertas Rp400–1.500, logam Rp1.600–8.000. Harga jual ke pengepul lebih tinggi daripada harga pembelian ke nasabah. Selisihnya untuk menutup biaya operasional, pembelian dan pemeliharaan alat pengolahan sampah yang mencapai lebih dari Rp10 juta/bulan, dan membayar gaji pekerja 6–8 orang/bank sampah.

“Selisihnya tipis, bahkan beberapa bulan kami tekor. Tapi, dari awal kami sudah ikhlas,” kata Abra. Nasabah bisa mengambil uangnya kapan saja. “Rata-rata satu nasabah bisa mendapatkan Rp150–200 ribu/bulan,” ungkapnya. Total perputaran uang dari 300 bank sampah itu sekitar Rp300 juta/bulan.

Menurut Isnarto, ia belum memiliki data penurunan volume sampah yang dibuang ke TPA menyusul keberadaan 300 bank sampah itu. Tapi, sebagai gambaran ia menunjuk contoh RT 5/RW 1 Sukmajaya yang dihuni 200 KK yang produksi sampahnya sangat banyak. Tadinya tiap hari truk tiga kali bolak-balik mengangkut sampah dari UPS Merdeka 2 Sukmajaya ke TPA. Sejak adanya bank sampah, pengangkutan sampah dari RT itu hanya dua kali seminggu.

“Jadi sampah yang diangkut ke TPA berkurang drastis,” ujarnya. Setiap hari warga RT menyetor 200 kg sampah anorganik ke bank sampah, 300 kg sampah organik ke UPS. Ia mengaku punya kepuasan tersendiri bisa membantu mengubah perilaku warga soal sampah dan membuat lingkungan kota bersih. “Sekarang Depok relatif bersih dari sampah,” katanya.

Isnarto dan seluruh tokoh serta warga yang terlibat menargetkan bisa mendirikan 2.000 bank sampah supaya Depok benar-benar bebas sampah. Dengan ribuan bank sampah itu ia juga ingin mengubah citra sampah sebagai barang tak berguna menjadi sumber penghasilan warga.

“Kita harus punya tanggung jawab, apa yang kita nikmati hari ini harus juga bisa dinikmati warga di masa depan,” katanya. Untuk efektifitasnya dalam mengatasi persoalan sampah itu, Bank Sampah Depok mendapat penghargaan dari berbagai lembaga.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me