Alexander Tedja, salah satu Orang Kaya di Bisnis Properti

Big Banner

Alexander Teja menempati urutan ke 10 dari 11 orang kaya di bisnis properti di Indonesia versi majalah properti Indonesia (MPI) edisi Februari 2018 dengan total Kekayaan Rp16.7 triliun.

Ia dikenal konsisten dengan Proyek Highrise Premium. Pria asal Surabaya, kelahiran Medan, 22 September 1945. Bisa dibilang ia merupakan pebisnis daerah yang kiprah bisnisnya sukses hingga tingkat nasional.

Awalnya Alexander Tedja memiliki latar belakang sebagai pengusaha di bidang perfilman dan perbioskopan, antara lain melalui perusahaannya PT ISAE FILM sejak tahun 1972, PT Pan Asiatic Film sejak tahun 1991 dan PT Menara Mitra Cinema Corp sejak tahun 1977. Namun sejak 1982, ia mulai berekspansi ke bidang properti dan mal. Ia membeli sebidang tanah di Jalan Basuki Rahmat, Surabaya dan memulai proyek Plaza Tunjungan I yang mulai beroperasi 1986. Proyek pertamanya ini pun sukses hingga dilanjutkan sampai pengembangan proyek Tunjungan Plaza 5.

Dia juga tercatat berada dibelakang proyek Menara Mandiri pada tahun 1991, Pakuwon City pada tahun 1994, serta Sheraton Surabaya Hotel dan Tower pada tahun 1996. Bahkan, Tunjungan Plaza 1-4 berhasil menjadi superblok perbelanjaan pertama di Indonesia. Pada eranya, Tunjungan Plaza sempat menjadi pusat perbelanjaan terbesar di Asia Tenggara.

Tidak puas hanya menjadi raja properti di Surabaya, Alexander Tedja meluaskan bisnis propertinya ke Jakarta. Di ibukota, ia mengembangkan superblok Gandaria City serta Kota Kasablanka. Kemampuan Alexander Tedja adalah piawai dalam mengendus lokasi strategis dengan harga terjangkau. Ketika mulai membeli tanah untuk Tunjungan Plaza pada tahun 1982 pun, ia membelinya dengan harga yang relatif murah. Dengan kerja keras, perusahaan pemilik Tunjungan Plaza, PT Pakuwon Jati Tbk berhasil melakukan IPO (Initial Public Offering) atau penawaran saham ke public pada tahun 1989.

Boleh dikatakan hampir seluruh mall, office dan juga apartemen yang dikembangkan Pakuwon Group memiliki tingkat penjualan dan hunian yang tinggi. Dengan karakteristik “tangan dingin” yang dimiliki, grup Pakuwon mampu membuat salah satu proyek mereka (Kota Kasablanka) yang dulunya dipersepsikan “gagal” karena krisis Asia menjadi sukses sejak dioperasikan beberapa tahun lalu.

Grup Pakuwon mempunyai target pasar yang tepat dan besar untuk masyarakat Indonesia yaitu Middle to Middle-up segment. Dalam 3 tahun terakhir ini pertumbuhan asset dan pendapatan group ini cukup tajam. Tahun lalu berhasil mencatat pendapatan dari Rp3 triliun. Aset sebesar Rp9,9 triliun serta kapitalisasi pasar lebih dari Rp16,8 triliun.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me